[Vignette] STOP!

stop

 [my old story with some revision on July 13th, 2015]

Cast : Song Mino & Lee Somi (OC) | Genre : Sad

“Just stop it. It won’t happen. Please move”

ENJOY!

STOP! © seijurossi (@chantyolk)

 

Everyone calls me crazy

They say I’m so strange for pushing a guy like you away

You say so easily that it was love at first sight

You seem so light

“Aku menyukaimu, Lee Somi.”

Ugh. Hal yang kuduga akhirnya terjadi juga.

Aku pertama kali bertemu dengan dia dua tahun yang lalu. Saat itu dia membantuku membawa beberapa buku yang diminta oleh guru ke perpustakaan. Dari pertemuan itu, aku sudah tahu bahwa dia tertarik denganku. Bisa dilihat dari sikapnya yang perhatian, perkataannya yang sopan, serta wajahnya yang bersemu merah.

Tidak, aku tidak jumawa. Itu karena hal ini sudah sering kualami sejak aku pertama masuk SMA Kyungsan. Hampir setiap laki-laki yang melihatku langsung melancarkan aksi pendekatan dan akhirnya menyatakan perasaannya padaku. Memang kuakui, wajahku termasuk golongan di atas rata-rata. Tipikal kecantikan perempuan Korea yang sangat dikagumi banyak orang. Kulit putih susu, wajah oriental, serta proporsi tubuh sempurna. Ditambah lagi dengan fakta bahwa aku anak pemilik perusahaan yang sudah memiliki berbagai cabang di Asia.

Double standart. Wajar jika setiap laki-laki berebut ingin mencuri perhatianku. Salah satunya adalah laki-laki yang sekarang berada di hadapanku, Song Mino.

Sebenarnya, dari sekian laki-laki yang menyukaiku, Song Mino-lah yang paling menarik perhatianku. Dia itu ketua klub basket di SMA serta menjabat sebagai wakil ketua OSIS. Oh, dan wajahnya cukup tampan. Kudengar hampir sebagian perempuan di SMA Kyungsan menyukainya. Sama seperti sebagian laki-laki yang menyukaiku.

Jika aku bertanya pada setiap orang, mungkin sebagian dari mereka menyarankan agar aku berpacaran saja dengan Mino—walaupun mengambil resiko membuat patah hati hampir seluruh siswa SMA Kyungsan. Karena bagi mereka, aku dan Mino itu sama-sama terkenal dan disukai.

Aku masih ingat kali pertama Mino mulai mendekatiku, berbagai gosip langsung beredar bahwa aku dan Mino sudah berpacaran. Aku tidak pernah mengambil pusing dengan gosip semacam itu. kurasa Mino sebaliknya, dia justru nampak menikmati dilanda gosip yang mungkin baginya sangat menguntungkan. Dari sikapnya saja aku sudah bisa menebak bahwa cepat atau lambat Mino pasti akan menyatakannya.

Dan terbukti, bukan? Hari ini, sepulang sekolah, Mino memanggilku untuk menuju ke pintu belakang, dan dia menyatakannya. Dengan mantap. Tanpa rasa keraguan apapun.

Saat ini aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Menerimanya? Oke, walaupun dia itu tampan dan populer, tetapi aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya. To tell you the truth. Tetapi aku juga tidak membencinya.

Akhirnya aku mengeluarkan perkataan yang entah sudah yang keberapa kali kulontarkan kepada setiap laki-laki yang menyatakannya padaku, “Sejak kapan kamu menyukaiku?” tanyaku, lebih cocok jika disebut interogasi. Ya, karena aku sedang menginterogasinya, sekedar memastikan apakan Mino hanya sekedar suka atau—

“Tentu saja sejak pertama kali aku bertemu denganmu. Kamu tahu love at first sight?” katanya seraya tersenyum. Senyuman yang mungkin bagi perempuan lain bisa melelehkan hatinya dalam beberapa detik. Tetapi senyuman mautnya tidak berguna jika di hadapanku.

I don’t believe that you fell for me at first sight

I don’t like that I see the end so clearly

Aku mendesah pelan. Lagi-lagi alasan ini.

Hampir semua laki-laki yang kutanyai mengenai hal ini, jawaban mereka selalu sama. Love at first sight. Bukannya aku tidak percaya, tetapi kurasa mereka hanya mencari alasan untuk bisa memilikiku. Atau lebih tepatnya, memanfaatkanku demi kekayaan keluargaku. Kukira laki-laki nyaris sempurna seperti Song Mino bisa memberikan jawaban yang berbeda dari sebelumnya, ternyata dia sama saja. Padahal aku sempat menaruh sedikit harapan padanya, walaupun aku tidak terlalu berharap sepenuhnya.

Aku memasang senyumanku yang termanis untuk Mino, “Maaf, tetapi aku tidak bisa.” Segera aku berbalik arah meninggalkannya. Kukira urusanku sudah selesai dengan jawaban langsung yang kuberikan ini, tetapi Mino yang tiba-tiba memegang lenganku, mencegahku untuk pergi membuatku terkejut. Mau apa lagi dia?

Mino terdiam sejenak sebelum dia berkata, “A… aku menyukaimu, Somi…” Ada nada memaksa dalam perkataannya kali ini. Aku menatapnya heran. Tapi barusan kau kan sudah mengatakannya!

“Kau sudah tahu apa jawabanku, jadi bisakah kau melepaskan tanganku?” aku mulai tidak nyaman dengan perilaku Mino. Berulang kali aku berusaha melepaskan tanganku, tetapi berulang kali juga Mino memperkuat cengkeraman tangannya.

“Tetapi, aku benar-benar menyukaimu, Somi!” Mino tetap saja mengulangi perkataan yang sama. Ini mulai membuatku kesal.

“Yeah, tetapi aku tidak menyukaimu, Song Mino,” kataku, berusaha menahan sekuat mungkin keinginan untuk meninjunya. Sabar, Somi. Kau tidak bisa tiba-tiba meninju Song Mino hanya karena dia menyatakan perasaannya padamu.

“Kenapa kamu tidak menyukaiku? Apa aku belum cukup untukmu?”

“Bisakah kita hentikan percakapan konyol ini supaya aku bisa cepat pulang?” aku kerap menarik lenganku dari cengkramannya. Mino yang sadar aku berusaha melepaskannya, akhirnya berteriak, “Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kamu memberitahuku mengenai alasan mengapa kau menolakku!”

Aku menganga. Benar-benar tidak percaya. Kutarik perkataanku mengenai dirinya sebelumnya. Aku benci dengan fakta Mino tipikal laki-laki yang ingin semua berjalan sesuai dengan keinginannya.

Teriakan Mino membuatku sadar aku tidak bisa berlama-lama bersikap baik dengannya. “Bukankah jawaban ‘aku tidak menyukaimu’ sudah termasuk sebagai alasan?!” Aku meninggikan suaraku.

“Itu bukan jawaban! Aku ingin tahu kenapa kamu bisa tidak menyukaiku? Bukankah aku ini laki-laki yang tepat untukmu, Somi-ah?” Mino menatapku—dengan tatatapan yang seolah minta dibelaskasihani.

Aku tidak tahan lagi. Dengan kukerahkan seluruh kekuatanku, aku berhasil melepaskan diri dari pengangan Mino. Lalu sebelum Mino menahanku lagi, aku beranjak berlari menjauhinya.

–ooo00ooo—

Please stop loving me

It seems like it will cool down soon –

Please stop having interest in me

Please don’t follow me

I might hurt you – please leave me alone

“Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanyaku tak percaya begitu melihat Mino yang berdiri di depan tempat lesku. Aku heran, bagaimana Mino mengetahui tempat lesku?

Mino menatapku sambil tersenyum. Setelah apa yang terjadi waktu itu, sekarang aku benci dengan senyumannya. “Aku ingin mengantarmu pulang. Sekarang sedang hujan lebat, aku takut kau pulang dengan keadaan basah kuyup.”

“Aku bisa menunggu sampai hujan ini reda. Kau tak perlu mengantarku pulang,” kataku lalu beranjak pergi. Aku tidak ingin berhubungan dengan Mino lagi. Tidak lagi setelah kejadian itu.

Tetapi Mino memang tidak kenal kata menyerah, dia langsung menarikku dan menuntunku secara paksa menuju mobilnya. Aku—yang jelas lebih lemah dari Mino—hanya bisa pasrah dan tidak berusaha untuk meronta lagi, karena sudah jelas kali ini Mino tidak akan melepaskan tanganku.

Selama di mobil, aku tidak ingin menatap maupun mengajak Mino mengobrol. Aku memilih diam. Semua penuh dengan keheningan sampai akhirnya Mino memulai percakapan, “Maaf atas perbuatanku lusa kemarin,” Mino tetap menatap lurus seraya menyetir.

Aku tersentak. Maksudnya apa? Dia tiba-tiba meminta maaf sekarang setelah membuatku berteriak padanya lusa kemarin?

“Waktu itu aku hanya emosi, karena tidak percaya bahwa kau akan berkata demikian…” lanjutnya. Emosi? Bukankah yang harusnya merasa emosi itu aku?

“Somi-ah, sudah dari dulu aku memperhatikanmu ketika baru pertama masuk SMA Kyungsan. Waktu aku membantumu membawakan buku, pertama kali yang kupikirkan begitu melihatmu, aku berpikir ternyata ada juga perempuan yang persis seperti bidadari. Cantik. Kau seolah bersinar waktu itu,” Mino terkekeh. Aku tidak merasa tersanjung akan perkataannya, justru aku merasa aneh dengan perumpamaan Mino.

“Dan setelah itu, aku tidak bisa melepaskan bayanganmu dalam ingatanku. Aku.. selalu memikirkanmu setiap hari. Selalu berharap kamu akan membalas perasaanku.”

Stop thinking about me – I’m not the one

Stop thinking about me

Stop thinking about me – I don’t like this

Stop thinking about me

Dusta. Semua itu pasti dusta. Aku yakin pasti ada maksud di balik semua perkataannya. Aku tidak bisa mempercayainya. Sudah terlalu sering aku berhadapan dengan situasi seperti ini.

Saat itu, aku hanya diam mendengar semua ucapannya.

–ooo00ooo—

They say there’s no guy like you, that there’s no chance like this

But it’s not for me, what can I do?

How can you say you like me when you don’t even know me?

Your words are so strange

“Somi-ah, kudengar kau menolak Mino, itu benar?!” beberapa perempuan mulai mengerubungiku begitu aku masuk ke dalam kelas. Sudah kuduga berita ini akan menyebar dengan cepat.

Aku tidak langsung menjawab, melainkan berjalan menuju ke tempat dudukku. Semuanya nampak mengikutiku. “Ya, aku menolaknya,” jawabku singkat. Seketika semua langsung berteriak heboh. Bahkan yang sebelumnya tidak ikut bertanya ikut berteriak. Kurasa ini berita terhangat pagi ini bagi mereka.

“Kenapa kau menolaknya? Padahal tidak ada lagi laki-laki yang nyaris sempurna seperti Mino…”

“Kapan lagi bisa mendapat kesempatan untuk berpacaran dengannya? Aish, apa yang kau pikirkan sih, Somi? Kau membuang kesempatan yang sangat berharga!”

Aku mendecak pelan. Kesempatan yang sangat berharga? Jangan membuatku tertawa. Mereka semua belum tahu bagaimana sifat asli Mino.

–ooo00ooo—

You’re too fast – cutting off the introduction and the body

And asking for my heart right away

From there, you were out

“Somi, apa kamu sudah berubah pikiran tentang perasaanmu terhadapku?”

Aku mendesah pelan. Ini sudah hari kelima Mino kerap muncul di hadapanku—kebanyakan ketika sudah pulang sekolah—menungguku di dekat lokerku dan tidak akan pulang sampai aku memberikan jawaban yang memuaskan dirinya.

“Sekali aku sudah membuat keputusan, aku tidak akan semudah itu mengubah keputusan yang kubuat, Song Mino-ssi,” kataku sarkatis.

“Somi, tunggu!” lagi-lagi Mino mencengkeram lenganku.

“Sudah berapa kali kukatakan, aku menyukaimu, Somi. Aku menyukaimu, aku benar-benar menyukaimu. Tidakkah kau mengerti?”

Aku mengepalkan tanganku. Di hari sebelumnya, biasanya aku akan menyentakkan tanganku kasar kemudian berlari meninggalkannya. Kemudian bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun dengan Mino. Tetapi, kali ini kesabaranku sudah habis.

Aku menatap Mino penuh kekesalan, “Aku mengerti, Mino-ya. Aku tahu kau menyukaiku, dan aku menerima kenyataan itu. Tetapi seharusnya kau juga bisa menerima kenyataan bahwa aku tidak menyukaimu!”

“Aku tidak percaya itu!” protes Mino, “Aku tahu kau sebenarnya hanya tidak jujur dengan dirimu sendiri. Sebenarnya kau juga menyukaiku, bukan?”

Orang ini!!

“SONG MINO!” bentakku. Sudah cukup! Aku tidak akan bersikap baik dengannya lagi. Orang ini… Song Mino begitu egois!

“SATU HAL, AKU TIDAK MENYUKAIMU! DAN AKU BERKATA JUJUR!” setelah mengatakan hal itu dengan cara yang lebih tegas, aku merasa lega. Seakan beban yang menghantuiku sudah terangkat dari pikiranku.

Aku melihat reaksi Mino. Dia tampak sangat terkejut, tetapi dia juga tidak berkata apapun. Kurasakan cengkeraman Mino sudah mengendur, jadi kumanfaatkan dengan melepaskan tanganku dan segera berlari menjauhi dirinya.

Kuharap setelah ini, Mino tidak akan mengejarku lagi. Kuharap dia mengerti dan cepat melupakanku.

Please don’t look at me – erase me from your head

No matter how hard you try, it won’t happen

Empty your heart, please move

….

….

…..

“Tetapi aku menyukaimu, Somi-ah…Aku menyukaimu, Aku menyukaimu… kenapa kau tidak bisa mengerti itu….”

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s