Winter Tears Part 2: Heart’s Answer

WTHA

Previous Part

Cast : Jaejoong (JYJ), Heechul (SJ), Sungmin (SJ), Hwangrin (OC), Min Ah (OC) | Genre : AU, Angst, Hurt/Comfort, Romance

“Pikirkan baik-baik, siapa yang benar-benar berarti untukmu.”

ENJOY!

Winter Tears Part 2: Heart’s Answer © seijurossi

 

December 25th. 05.52 AM

Sangat berat untuk membuka mataku. Kurasa, mataku bengkak hebat setelah kemarin menangis terus menerus. Aku segera bangun dari tempat tidurku. Bahkan kepalaku terasa berat. Tetapi aku tidak terlalu memperdulikan hal itu. Aku tidak peduli dengan apapun lagi…mungkin dengan semua hal. Aku tidak akan peduli lagi.

Aku memandang pantulan diriku sendiri di cermin. Sejenak aku terpaku melihat bayanganku sendiri.

Parah. Sangat parah. Mataku bengkak nyaris sebesar bola tenis. Sorot mataku sayu, seperti kehilangan semangat hidup. Bibirku tak henti-hentinya bergetar.

Kejadian kemarin…rasanya seperti mimpi bagiku. Aku tidak mau percaya, tetapi semua ini sudah terlanjur terjadi.

“Lee Hwangrin, oppa pulang!”

Suara berat yang berasal dari lantai bawah mengejutkanku. Itu suara oppa-ku, Lee Sungmin—tetapi aku lebih suka memanggil nama kecilnya atau ‘Ming’ saja. Sudah sejak tanggal 20 lalu dia pergi ke luar negeri untuk menemui appa dan eomma. Kedua orang tuaku memang tinggal di sana. Dan seharusnya aku juga ikut pergi menemui mereka seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi tahun ini, karena ajakan namja itu, aku memutuskan untuk tinggal di rumah dan membiarkan Sungmin pergi sendiri. Tetapi pada akhirnya aku sadar bahwa pengorbananku sia-sia.

“Astaga, apa yang terjadi dengan matamu? Kau habis berkelahi?”

Sial. Sungmin cepat sekali sampai di kamarku. Dan aku belum sempat untuk menguncinya.

“Tidak apa. Bukan masalah kecil.” kataku cuek.

“Apanya yang ‘bukan masalah kecil’? Kau tidak tahu kedua matamu sudah membengkak! Sebaiknya kau segera duduk, oppa akan mengompres matamu.” Sungmin mengambil sapu tangan yang sudah tersedia di lemari pakaianku dan segera menuju ke kamar mandi untuk mengisi air.

Satu hal yang aku suka dari Sungmin, dia sangat perhatian jika sudah menyangkut diriku. Dan dia orang yang paling sering mengerti diriku, karena aku selalu bercerita apapun kepadanya. Hanya itu saja yang aku suka, selebihnya…dia itu sangat cerewet dan suka menceramahiku tentang gaya pakaianku. Apa kalian percaya hampir seluruh pakaian yang ku punya adalah hasil pilihan Sungmin?

Sungmin datang dan langsung menyuruhku berbaring. Aku mengikuti perkataannya. Dia menaruh sapu tangan ke dalam baskom berisi air, mengeluarkannya, dan meremasnya. Lalu Sungmin menaruh sapu tangan itu di atas mataku.

Err, kenapa airnya sangat dingin sekali?

“Baiklah, tinggal ditunggu selama beberapa menit.” Ucap Sungmin sambil menepuk-nepuk bahuku.

Kupikir, setelah ini Sungmin akan pergi menuju ke kamarnya dan membereskan barang-barang bawaannya, tetapi aku salah. Dia tetap duduk di sampingku dan tanpa basa-basi langsung bertanya, “Jadi, kau menangis karena siapa?”

Aku mendesah pelan. Walaupun saat ini aku tidak sedang ingin bercerita, tetapi karena ada nada paksaan dari pertanyaan Sungmin barusan, terpaksa aku menceritakannya..

“Kau tahu siapa orangnya, Ming-ah.” jawabku. Aku tidak ingin mengucap namanya untuk saat ini.

“Siapa? Jaejoong? Dia yang membuatmu menangis?” Sungmin bertanya dengan penasaran.

Mhm.”

“Kenapa? Kalian bertengkar?”

Lebih dari sekedar itu. Tetapi masa aku harus terang-terangan berkata seperti itu? Harga diriku sudah nyaris hancur kemarin, aku tidak ingin membuatnya semakin hancur.

Mendengar kebisuanku, Sungmin mulai mengguncang-guncangkan bahuku, “Hwangrin-ah, jawab! Kalian bertengkar? Atau…astaga, jangan bilang kalian sudah putus?” Sungmin berkata setengah histeris.

Aku mendengus pelan. Setidaknya bukan aku yang mengatakan itu secara langsung, “Itu kau tahu sendiri,” kataku.

Tidak ada ucapan yang terucap dari mulut Sungmin setelah itu. Aku tidak tahu apakah dia sudah pergi dari kamarku atau tidak, karena jelas-jelas kedua mataku sedang dikompres.

“Apa alasannya?”

Oh. Sungmin masih berada di sebelahku ternyata. Tapi…mengapa nada suaranya berubah menjadi serius seperti itu?

“Panjang. Kau tidak akan tahan mendengar ceritaku.”

“Aku punya banyak waktu.”

Hening sejenak.

Aku mendesah. Dengan perasaan setengah-setengah aku pun menceritakan semua kejadian menyakitkan kemarin…dan aku sangat terkejut karena ketika aku bercerita, suaraku tidak bergetar serta air mataku tidak menyeruak keluar. Apa karena ada Sungmin di sampingku?

“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Sungmin setelah mengambil sapu tangan di atas mataku. Aku memeriksa kedua mataku. Sepertinya sudah agak baikan, walaupun masih terasa agak berat.

Aku terdiam. Yang akan kulakukan? Sejujurnya aku sama sekali tidak memikirkan hal itu. setelah namja itu berkata seperti itu, aku merasa seperti baru kalah dalam bermain game. Putus asa. Ingin mengulang kembali tetapi sudah terlanjur malas. Tetapi masih ada sebersit keinginan untuk memenangkan kembali game tersebut.

Dan yang dimaksud dengan memenangkan kembali game adalah…tetap menyukai namja itu.

Aku menundukkan kepalaku. Sangat kesal dengan diriku sendiri. Mengapa air mata ini tetap bersikeras untuk keluar? Apa dia tidak tahu bahwa saat ini aku sudah capek menangis? Aku sudah capek menahan rasa sakit yang terus menjalar di seluruh tubuhku?

“Angkat kepalamu,” Sungmin menyentuh kedua pipiku dengan tangannya lalu mengangkat kepalaku. Aku tidak bisa mengelak lagi.

“Aku tahu kau masih sangat menyukainya, Hwangrin-ah,”

“Tidak, sudah tidak lagi, Ming. Dia lebih memilih yeoja itu.” bahkan aku butuh usaha keras untuk bisa mengucapkan kalimat ini.

“Kau serius?”

Aku mengangguk pelan, “Lagipula mereka memang cocok. Yeoja itu cantik, baik, dan nyaris sempurna, pasti sangat cocok disandingkan dengan namja itu.” aku tertawa pelan. Bahkan suara tawaku sudah persis seperti orang yang putus asa.

Memang aku sudah putus asa.

“Memangnya kau tidak seperti itu? Cantik, baik, dan nyaris sempurna?” tanya Ming. Lebih untuk meyakinkan diriku sendiri.

Aku mengangguk kecil, “Aku sangat jauh bila dibandingkan dengannya, Ming-ah. Aku ini lemah, cengeng, dan tidak cantik. Aku…aku…” aku tidak bisa melanjutkan perkataanku. Tiba-tiba saja aku kehilangan kata-kata.

Sungmin tidak berkata lagi, dia beranjak dari tempat tidurku lalu mengambil kaca kecil di atas meja riasku. Dia menunjukkan kaca itu di hadapanku, yang membuat wajahku lagi-lagi terpantul di dalam kaca itu, “Lihat dirimu sendiri,” katanya.

Aku melihat wajahku dan jujur aku merasa terkejut. Air mata sudah mengalir deras di pipiku. Bahkan aku tidak menyadarinya sama sekali.

Aku menundukkan kepalaku, menutupi seluruh wajahku dengan kedua tanganku. Aku mulai terisak pelan.

Mengapa aku menangis lagi? Dia toh sudah mengatakan yang sebenarnya, jadi buat apa aku terus menerus menangisinya?

Ukh..” aku berusaha menahan tangisku, tetapi aku tidak bisa menghentikan tangisanku ini. Semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa ingin menangis. Semakin aku merasa sangat hancur.

Sungmin menepuk-nepuk punggungku pelan, “Jangan ditahan. Menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Kalau ditahan hanya akan membuat hatimu semakin sakit.”

Dan saat itu juga, aku kembali menangis keras.

Sungmin tetap berada di sisiku selama itu. Aku sangat nyaman berada di dekatnya. Apalagi ketika dia memelukku erat. Beginikah pelukan cinta dari seorang kakak?

Saat itu, aku hanya memejamkan kedua mataku dan terus menangis. Tanpa melihat ekspresi Sungmin yang seketika berubah menjadi geram.

December 26th. 09.44 AM

BUGH!

Jaejoong tersungkur di tanah. Dia meringis karena pukulan tiba-tiba dari Sungmin itu.

“Sudah pernah kuingatkan berulang kali kan, jangan membuat Hwangrin terluka!” bahkan untuk ukuran Lee Sungmin yang biasanya selalu bersikap lembut dan tidak pernah bermain fisik bisa melakukan hal seperti ini juga. Emosi terpancar jelas di kedua matanya.

“Kau tahu bagaimana kuatnya perasaan adikku itu terhadapmu, bukan? Tetapi mengapa kau justru menyia-nyiakannya?!”

Jaejoong terdiam. Dia tidak berusaha menyanggah ucapan Sungmin.

Sungmin mengatur napasnya, mencoba mengatur kembali emosinya. Lalu dia berkata kepada Jaejoong, “Berdiri. Kita harus bicara.”

December 26th. 10.02 AM

Min Ah keluar dari sebuah toko. Lagi-lagi orang tuanya memutuskan untuk pergi berlibur tanpa mengajak dirinya, jadi dia terpaksa membeli bahan makan dan memasak sendiri di rumah. Untung saja sudah sejak kecil dia dilatih masak oleh ibunya, kalau tidak mungkin sekarang Min Ah akan sering-sering memesan makanan di restoran dan menghabiskan banyak uang.

Min Ah berjalan santai menuju rumahnya. Dalam perjalanan, dia memikirkan banyak hal. Sudah lewat dua hari semenjak hari itu, dan dia sama sekali belum bertemu lagi dengan Jaejoong. Min Ah tidak mungkin yang menghubunginya duluan, dia selalu malu jika melakukan seperti itu.

Ketika berbelok, Min Ah mendapati dua sosok namja yang tengah berbicara di bangku dekat taman.

Namja itu Jaejoong dan Sungmin, oppa-nya Hwangrin. Tentu saja Min Ah kenal Sungmin, karena dia itu berada di tahun terakhirnya di SMA yang sama dengannya, Jaejoong, Hwangrin, dan…Heechul.

“Aku tahu perasaanmu, Jae. Kamu tidak ingin membuat Min Ah terluka, tetapi kurasa kau hanya bersimpati padanya.”

Mata Min Ah sontak melebar. Mereka sedang membicarakannya? Min Ah menajamkan pendengarannya. Berusaha mendengar lebih jauh lagi pembicaraan kedua namja itu.

“Kau masih menyukai Hwangrin, kan?”

Min Ah terpaku di tempatnya. Mengapa Sungmin menanyakan hal seperti itu kepada Jaejoong?

“Aku tidak tahu. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri. Apa aku benar-benar menyukai Hwangrin? Apa aku…masih menyukai Min Ah?” Jaejoong bersandar di bangku taman. Kepalanya mengadah ke atas. Dia nampak berpikir dengan sangat keras.

Deg. Detak jantung Min Ah semakin kencang.

“Aku menganggap Hwangrin itu orang yang asyik untuk menjadi tempat sandaran. Dan dia menganggap akulah segalanya, walaupun seandainya aku ini orang jahat dan telah menyakitinya…kupikir dia akan tetap menerimaku…” lanjut Jaejoong.

Min Ah terdiam. Dia memejamkan kedua matanya. Lalu dia menarik napas dan menghembuskanya perlahan. Sepertinya…dia harus mengalah kali ini.

December 26th. 10.13 AM

Sungmin tersenyum kecil mendengar penjelasan Jaejoong. Persis seperti dugaannya. Dia beranjak dari bangkunya sambil memukul bahu Jaejoong pelan, “Oke, aku pergi dulu. Ngomong-ngomong, mianhae karena telah memukulmu,” katanya sembari terkekeh kecil.

Jaejoong mengangguk, “Gwaenchana. Aku mengerti kau sangat menyayangi Hwangrin.”

“Haha, iya. Aku pergi sekarang ya, Jae-ah!” Sungmin melambaikan tangannya sambil berjalan menjauhi Jaejoong.

Jaejoong sudah ingin bangkit juga dan segera pergi, tetapi kehadiran sosok Min Ah membuatnya terkejut, “Min Ah?”

Annyeong, Jae,” sapa Min Ah, “aku ingin bicara sebentar denganmu, bisakah?” pinta Min Ah langsung. Jaejoong tidak berpikir lama untuk mengiyakan ajakan Min Ah.

Mereka duduk di bangku tempat Jaejoong dan Sungmin tempati barusan. Entah mengapa kali ini Jaejoong merasa canggung begitu di hadapan Min Ah.

Min Ah tahu kecanggungan Jaejoong, dia juga merasakan hal yang sama, entah mengapa. Tetapi dia harus segera mengatakan hal ini, “Jae-ah, kemarin Heechul menelponku, dia meminta maaf tentang kejadian pada malam Natal kemarin dan…dia berharap aku dan kamu bisa berbahagia,” Min Ah berkata tanpa menatap Jaejoong sama sekali.

Jaejoong terkesiap dan menoleh cepat ke arah Min Ah, “Tetapi bukannya kita belum…”

Min Ah tersenyum. Senyuman yang terasa miris, “Jae-ah, jangan paksakan dirimu.”

Kening Jaejoong berkerut, “Apa? Aku tidak memaksakan apapun,”

Mianhae, tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Sungmin,” perkataan Min Ah membuat Jaejoong melebarkan kedua matanya.

“Aku baik-baik saja, Jaejoong. Aku tidak butuh simpati darimu,” Min Ah menatap Jaejoong dengan tatapan lurus. Senyumannya memudar seketika.

Tidak ada kalimat yang terucap dari mulut Jaejoong. Dia hanya terdiam.

Min Ah bangkit dari tempat duduknya, “Pikirkan baik-baik, siapa yang benar-benar berarti untukmu.” katanya lalu pergi meninggalkan Jaejoong yang masih bertanya-tanya.

Jaejoong menatap punggung Min Ah yang semakin lama semakin menjauh darinya. Dia nampa memikirkan kalimat terakhir Min Ah dengan serius.

Siapa yang benar-benar berarti untuknya?

December 26th. 11.22 AM

Sudah jam segini?!

Aku bangun dari tempat tidurku. Mengerjap-kerjapkan kedua mataku yang dipaksa melihat cahaya matahari siang yang masuk ke dalam kamarku tiba-tiba.

Aku mengedarkan pandanganku. Tidak ada Sungmin di sini. Bukankah tadi dia masih menemaniku? Apa dia diam-diam pergi ketika aku ketiduran? Dan ngomong-ngomong, memangnya aku ketiduran?

Sepertinya iya. Karena terlalu lama menangis, aku sampai tidak sadar bahwa sudah tertidur. Sungmin memang baik, dia menidurkanku lalu membereskan baskom berisi air dingin yang kupakai untuk mengompres mataku tadi. Dan, jendela kamarku sudah dibuka.

Ketika aku sudah ingin beranjak dari tempat tidurku dan berjalan ke lantai bawah, suara Sungmin—lagi-lagi—mengagetkanku.

“Hwangrin-ah, kau sudah bangun?” Sungmin muncul di balik pintu kamarku. Aku mengangguk lemah lalu benar-benar beranjak dari tempat tidurku. Astaga, tubuhku sakit semua. Dan sepertinya mataku mulai membengkak lagi.

“Aku tertidur kan? Dan kau meninggalkanku.” ujarku sambil merengut.

Sungmin berlari menghampiriku dan mulai menepuk-nepuk punggungku lagi, “Mianhae, habis oppa tidak ingin mengganggumu tidur. Jadi oppa pergi saja,” kekehnya pelan.

Aku memandangi Sungmin lekat-lekat. Dari atas sampai bawah. Sungmin merasa tidak enak dipandangi seperti itu, apalagi oleh adiknya sendiri, “Mengapa kau memandangku seperti itu?” Sungmin mengernyitkan keningnya.

“Kau tadi pergi ke luar ya, Ming-ah?” aku memutuskan untuk bertanya. Walaupun pakaian Ming masih sama seperti tadi pagi, tetapi baunya berbeda. Aku tahu Ming selalu memakai wangi-wangian ketika pergi ke luar rumah, walaupun itu cuma mengunjungi tetangga saja. Dan lagi…Ming menyisir rambutnya. Perbedaan yang paling mencolok mengingat tadi pagi rambut Ming masih berantakan.

Tepat. Ming mulai gelisah. Apa dia diam-diam merencanakan sesuatu atau melakukan sesuatu yang aku tidak boleh ketahui apa itu?

“Hwangrin-ah,” Ming memanggil namaku. Ah, biasanya jika sudah begini, Ming pasti berniat untuk mengalihkan topik pembicaraan.

Aku menatapnya malas, “Apa?”

“Kita belanja yuk, hari ini kita bersenang-senang,” katanya sembari tersenyum lebar.

Aku tercengang, mengapa tiba-tiba dia mengajakku pergi?

Ming menarik tanganku dan mendorongku ke arah kamar mandi, lalu menyerahkan handuk mandiku yang terletak di sebelah pintu kamar mandi persis, “Cepat mandi. Kuberi waktu 15 menit. Baju akan kupilihkan.”

Aku pasrah dan mulai menutup pintu kamar mandi.

December 26th. 12.04 PM

Sungmin mulai hiperaktif.

Dia langsung mengajak Hwangrin berburu baju begitu sampai di COEX Mall. Bahkan semangat Sungmin masih menyala membara, padahal dia baru saja sampai dari luar negeri. Sungmin memang paling senang jika berurusan dengan baju.

Sementara Hwangrin justru kebalikannya. Dia sudah tidur dua kali dalam waktu setengah hari. Seharusnya dia akan merasa semangat jika diajak pergi ke Mall. Tetapi yang ada Hwangrin justru terus-terusan menghela napas panjang. Dan tidak terdapat rasa ketertarikannya untuk belanja. Jadi, intinya, hanya Sungmin yang berbelanja baju dan memilihkan beberapa untuk Hwangrin.

“Hwangrin, kau tidak tertarik dengan baju ini?” Sungmin membentangkan sebuah little pink dress bertali sabrina di hadapannya.

Hwangrin menatap dress itu dengan bosan, lalu menggeleng pelan, “Kau tahu aku tidak suka dengan dress dan sejenisnya, kan.”

Sungmin mencibir, “Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu. Tetapi kali ini kau harus mau memakai dress ini,” Sungmin menghampiri kasir dan segera membayar dress tadi. Begitu selesai, Sungmin menarik tangan Hwangrin lagi.

“Kau mau membawaku ke mana lagi?” tanya Hwangrin, semakin kesal. Dan pertanyaannya seketika terjawab karena Sungmin masuk ke dalam salon.

Ketika Hwangrin sudah ingin protes, Sungmin langsung berteriak kepada seluruh pekerja di salon, “Permisi, tolong buat adik saya ini menjadi cantik bersinar ya! Pakaikan treatment kualitas nomor satu, jangan lupa!”

Hwangrin sontak melebarkan matanya, “Mwoya?! Apa-apaan kamu ini, Ming—YA, JANGAN MENYENTUHKU!” Hwangrin berteriak histeris karena beberapa pekerja di salon sudah menuntunnya—sebenarnya, memaksanya—untuk memasuki sebuah ruangan.

“Sudah, diam saja. Ikuti saja perintahku,” Sungmin nyengir lebar, “selamat menjadi cantik bersinar, dongsaeng.”

Kali ini, Hwangrin benar-benar sudah mencapai batas kesal maksimum-nya.

1 hour later..

Sungmin tersenyum puas. Pilihannya memang tidak pernah salah dan selalu cocok untuk Hwangrin. Di hadapannya kini, adik perempuannya itu nampak berjalan kaku menghampirinya. Penampilannya kini sudah berubah. Seluruh tubuhnya benar-benar bersinar, wajahnya yang semula sangat kusut menjadi cerah kembali, dan tentu saja little pink dress yang Sungmin beli tadi sudah terpakai sempurna oleh Hwangrin.

“Coba kau lihat dirimu di cermin itu,” Sungmin menunjuk ke arah cermin besar di sebelah Hwangrin. Yeoja itu menurut. Dia mulai memperhatikan sosok barunya melalui pantulan cermin. Mata besarnya bergerak-gerak. Alisnya berulang kali tertarik dan mengendur. Bibirnya berkomat-kamit sendiri.

Sungmin yang melihat itu semakin tersenyum lebar, apalagi ketika Hwangrin beralih menatapnya dan berkata, “Eh, ini…aku?”

“Tentu saja, Lee Hwangrin! Bagaimana, kau menjadi lebih bersinar kan sekarang?”

Hwangrin melirik pantulan dirinya sekali lagi. Sorot matanya menunjukkan kekaguman, “Daebak, nan neomu yeppeo!” katanya girang.

“Memang sudah dari awal kau itu cantik, Hwangrin-ah,” Sungmin menatap lembut adiknya itu, “jadi, jangan lagi kau merasa bahwa dirimu itu tidak cantik. Percayalah, bagi oppa, kau yeoja yang paling cantik,”

“Setelah eomma?”

“Eh, iya. Setelah eomma. Kau yeoja tercantik setelah eomma, Hwangrin-ah.” Sungmin terkekeh pelan.

Perlahan seulas senyuman terukir dari bibir Hwangrin.

“Akhirnya kau tersenyum juga. Lee Hwangrin memang paling cantik ketika tersenyum,” ujar Sungmin lagi.

Giliran Hwangrin yang terkekeh pelan, “Kenapa hari ini seluruh perkataannya oppa seperti sedang bermain drama, sih?”

Sungmin memajukan bibirnya, “Oppa kan berbicara kenyataan. Lagipula oppa juga ingin menghiburmu supaya kamu tidak menangis terus.”

Hwangrin memandangi little pink dressnya, “Dengan membelikanku ini semua?” tanyanya.

Sungmin mengangguk. Hwangrin menghampiri Sungmin lalu menepuk kedua pipinya. Sungmin merintih karena tepukannya yang cukup keras.

“Gomawo, oppa.”

Mata Sungmin melebar, “Ya Tuhan! Kau memanggilku oppa! Mimpi apa aku semalam?”

“Memangnya aneh kalau aku memanggilmu oppa?” tanya Hwangrin sebal.

“Tentu saja. Terakhir kali kau memanggilku oppa sewaktu kau masih SD. Akhirnya kau kembali memanggilku oppa juga.”

Aniyo, aku hanya memanggilmu tadi saja, untuk selanjutnya aku tidak akan memanggilmu oppa.”

Ya! Hwangrin-ah!”

December 26th. 15.09 PM

“Kau…masih di sini?”

Jaejoong terkesiap. Dia menoleh ke arah belakang. Min Ah.

“Ah, annyeong. Kita bertemu lagi, Min Ah,” Jaejoong tersenyum simpul.

Min Ah segera mengambil tempat di sebelah Jaejoong, “Kau belum menjawab pertanyaanku. Dari tadi pagi sampai sekarang kau berada di sini terus?”

Jaejoong mengangguk, “Aku memikirkan banyak hal. Yah, setelah perkataanmu tadi pagi, aku jadi berpikir keras.”

Sontak Min Ah menatap Jaejoong, “Tidak usah kau pikirkan saat ini juga, Jae. Lagipula aku…” Min Ah tidak melanjutkan perkataannya. Dia terdiam.

“Apa?” Jaejoong melirik Min Ah penasaran.

Min Ah nampak berpikir sejenak, “Aku…” dia menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya, Min Ah tidak tahu mengapa tiba-tiba terlintas pikiran seperti itu di pikirannya, yang membuat dirinya harus menahan diri untuk tidak terlanjur mengatakannya kepada Jaejoong,

‘Lagipula aku sudah tidak ingin memasuki kehidupanmu dengan Hwangrin.’

Mengapa Min Ah bisa berpikiran seperti itu?

December 26th. 15.12 PM

…Mengapa aku harus melihat mereka?

Padahal hari ini aku nyaris sudah melupakan masalahku, sudah bisa tersenyum walau masih kaku. Berkat Sungmin juga aku bisa menikmati jalan-jalanku hari ini.

Tetapi mengapa kebahagiaan ini bahkan tidak bisa bertahan setidaknya sehari penuh?

“Hwangrin-ah, kau kenapa?”

Suara Sungmin mengagetkanku. Kulihat dia perlahan menghampiriku. Aku buru-buru menghampirinya duluan sebelum Sungmin juga melihat mereka.

“Tidak apa kok, Ming-ah. Aku tadi hanya melamum sebentar,” aku mulai mendorongnya untuk maju berjalan lagi, “ayo, kita kan harus segera pulang.” Kataku, berusaha terlihat ceria.

Di sela aku mendorong—memaksa—Sungmin untuk kembali berjalan pulang, aku melirik ke arah belakang sekilas.

Jaejoong yang terlihat sedang duduk bersama Min Ah di bangku kembali membuat hatiku terasa nyeri.

December 26th.15.32 PM

Sebenarnya Sungmin hanya ingin mengetahui reaksi Hwangrin saja. Walaupun Hwangrin berusaha supaya dia tidak ikut melihat mereka, bahkan Sungmin sudah bisa melihat mereka dari jarak jauh. Tetapi dia pura-pura melihat ke arah lain.

Reaksi Hwangrin sudah bisa diduga, dia tidak membiarkan Sungmin melihat mereka, Jaejoong dan Min Ah. Walaupun sudah bercerita banyak hal kepada Sungmin, adiknya itu terkadang masih saja menyembunyikan perasaannya.

“Ming-ah, di sini tidak ada makanan…” Hwangrin berkata lirih begitu membuka kulkas yang isinya nyaris kosong. Yeoja itu mendesah pelan, “Apa aku harus pergi ke supermarket?”

Tiba-tiba suatu ide terlintas di kepala Sungmin, “Tidak. Tidak usah. Biar oppa yang membeli bahan-bahan makanan. Kau tunggu saja di sini, oppa akan cepat kok.” Katanya sembari tersenyum lalu menuju ke pintu depan, membukanya, dan segera menutupnya.

Hwangrin yang melihat itu cuma bisa melongo, “Sejak kapan Ming bisa sangat antusias untuk membelikan bahan-bahan makanan?”

Tentu saja karena ada alasan lain. Hwangrin tidak tahu bahwa Ming langsung membuka flip ponselnya dan mulai menghubungi seseorang.

December 26th. 15.44 PM

“Ada apa memanggilku? Kau ingin bicara apa lagi?”

“Menurutmu apa?”

Jaejoong terdiam. Dia nampak berpikir, “Kau ingin menghajarku lagi?” tanyanya spontan.

Sungmin tertawa, “Sebenarnya, iya, tetapi ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan dari pada menghajarmu. Lagipula kalau kulakukan lagi, pasti gigimu akan patah.”

Jaejoong tidak merasa bahwa Sungmin terlalu percaya diri, memang kenyataannya Sungmin punya tenaga yang sangat kuat—di balik wajahnya yang imut-imut itu.

“Jadi, pembicaraan apa yang lebih penting daripada menghajarku, Sungmin?”

Sungmin mengedarkan pandangannya, “Tadi aku mengajak Hwangrin jalan-jalan. Butuh waktu lama supaya bisa membuatnya kembali tersenyum,”

Jaejoong mulai mengerti arah pembicaraan ini, “Lalu? Dia bisa tersenyum lagi kan?”

Sungmin mengangguk, “Seharusnya senyumannya akan bertahan setidaknya satu hari. Tetapi kemudian kembali pudar lagi,”

“Mengapa?”

Sungmin menatap Jaejoong, “Dia melihatmu duduk bersama Min Ah di bangku ini, bahkan kurang dari satu jam yang lalu, Jae.”

Jaejoong terkesiap, “Tetapi aku tidak melakukan apapun dengan Min Ah.”

“Dengan melihatmu bersama Min Ah saja, sudah cukup ampuh untuk memudarkan senyuman adikku, setidaknya satu hari.”

Hening sejenak.

Mianhae…” ujar Jaejoong lirih.

Sungmin menggeleng pelan, “Tidak perlu meminta maaf. Aku cuma ingin bertanya padamu— memastikan—kapan kau akan menentukan pilihanmu sendiri? Kalau seandainya kaliatmu tadi pagi yang sudah kau kau katakan padaku itu memang benar, mengapa sampai saat ini kau belum meyakinkan perasaanmu sendiri?”

Mollayo, aku juga bingung dengan diriku sendiri…setelah kau pergi tadi pagi, Min Ah datang, dan berkata bahwa sebaiknya aku jangan memaksakan diriku sendiri,

“Sepertinya dia mendengarkan pembicaraan kita tadi pagi. Dia berkata tidak butuh simpati dariku. Dan..menyuruhku untuk berpikir siapa orang yang paling berarti untukku…sekarang kau juga kembali berkata hal yang merumitkan diriku,” Jaejoong mendesah pelan. Baru kali ini dia dihadapkan dengan masalah yang sangat sulit untuk dia selesaikan sendirian.

“Bukankah sudah jelas? Bahkan Min Ah sudah berkata seperti itu, bukankah kamu seharusnya sudah tahu jawabannya?”

Jaejoong menatap Sungmin heran, “Kau tahu jawabannya?”

Sungmin mendecak pelan, “Bukan aku yang harus menjawab, kan. Seharusnya kau sudah bisa mengetahui jawabannya.”

“Beri aku kata kunci, kumohon. Aku benar-benar sudah sangat depresi,”

Sungmin mendesah pelan. Ternyata bukan hanya orang yang sedang jatuh cinta saja yang menjadi bodoh, orang yang dihadapkan dengan dua pilihan juga sama bodohnya.

“Kata kunci? Perkataan Min Ah. Yeoja itu sudah menemukan jawabannya sendiri. Sekarang giliranmu,” Sungmin menepuk punggung Jaejoong pelan. Kemudian matanya membelalak lebar, “Astaga! Aku belum membeli bahan makanan! Ya! Jae-ah, sebaiknya kau segera pikirkan itu baik-baik. Kalau sudah tahu jawabannya, segera lakukan apa yang hatiku katakan. Follow your heart. Sudah ya, aku pergi dulu!”

Begitu Sungmin menghilang dari pandangan Jaejoong, namja itu mulai memikirkan kembali kata kunci yang diberikan oleh Sungmin.

Jaejoong mulai mengingat-ingat perkataan Min Ah.

“Jae-ah, jangan paksakan dirimu.”

“Aku baik-baik saja, Jaejoong. Aku tidak butuh simpati darimu,”

“Pikirkan baik-baik, siapa yang benar-benar berarti untukmu.”

“Tidak usah kau pikirkan saat ini juga, Jae. Lagipula aku…”

Jaejoong mengernyitkan keningnya. Waktu itu Min Ah tidak melanjutkan kalimatnya. Apa yang sebenarnya ingin dia katakan?

Lagipula apa?

Lagipula aku…

….

“Pikirkan baik-baik, siapa yang benar-benar berarti untukmu.”

Jaejoong tersentak. Berarti…jawaban yang Min Ah pilih…perkataan yang dimaksud oleh Sungmin…

Gadis itu menyerah mundur?

Jaejoong memejamkan kedua matanya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan.

Namja itu membuka matanya. Dan seketika pemandangan di hadapannya menjadi lebih cerah.

Ya. Namja itu sudah menemukan jawaban yang dia cari.

December 26th. 16.59 PM

Aku menghela napas panjang. Sungmin belum pulang juga. Padahal dia sudah berjanji hanya akan pergi sebentar lalu segera pulang. Tetapi kenyataanya, sampai sekarang dia belum menampakan batang hidungnya sama sekali.

Bukan apa-apa, masalahnya, Sungmin sudah berjanji akan membelikan bahan makanan. Sementara aku sudah sangat lapar. Bisa saja aku berinisiaif memesan makanan, tetapi uangku sudah menipis drastis karena persiapan Natal kemarin…

Jadi satu-satunya jalan adalah menunggu Sungmin pulang. Aishh tapi aku sudah lapar sekali…

Krieett.

Aku langsung bereaksi begitu mendengar suara pintu terbuka. Segera aku berlari ke lantai bawah dan menuju ke pintu depan. Aku berharap itu Sungmin yang datang. Ayolah, Sungmin yang datang…Sungmin yang datang…Sungmin yang da—

Harapanku pias begitu melihat sesosok namja yang tidak ingin kulihat saat ini. Kim Jaejoong.

Aku terpaku di tempatku. Jaejoong menatapku sambil tersenyum, “Annyeong, Hwangrin-ah.”

DEG! Mengapa Jaejoong harus tersenyum seperti itu kepadaku?

“Apakah saat ini aku boleh diizinkan masuk?”

Bahkan Jaejoong bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Itu membuatku merasa tidak enak jika tidak mempersilahkan Jaejoong masuk. Jadi aku menyuruhnya masuk. Dia nampak senang sekali dan langsung menuju ruang tamu.

Ada apa dengannya?

Setelah aku membuatkannya minuman, aku mengambil tempat di hadapannya persis. Sejenak tidak ada percakapan yang terjadi di antara kami.

“Jadi…?” aku tidak tahan lagi untuk tidak bertanya, kedatangan Jaejoong ke rumahku tentu saja ada alasan kuat di balik itu.

“Jadi, aku minta maaf,” kata Jaejoong langsung.

Jantungku seolah baru saja ditransplantasikan ke kutub utara. Apa katanya?

Jaejoong menatapku. Tatapan itu hangat. Sama seperti dua hari yang lalu sebelum kejadian itu terjadi, “Aku minta maaf, karena sudah menyakitimu.”

“Ap-apa maksudmu berkata seperti itu?” suaraku mulai bergetar kembali. Oh, ayolah..

“Tidak ada. Aku hanya merasa bersalah. Kau mempunyai perasaan terhadapku dengan begitu kuatnya, tetapi aku justru menyia-nyiakannya dengan mudah. Dan aku sangat menyesal..”

Aku terdiam sejenak mendengar itu, “Lalu bagaimana dengan Min Ah? Bukankah kau menyukainya?” tanyaku sedikit ketus.

Jaejoong tidak langsung menjawab.

“Benar kan?”

“Aku tidak tahu, Hwangrin. Tadi Sungmin menghampiriku. Lalu dia mengatakan banyak hal padaku yang membuat aku berpikir ulang tentang keputusanku ini,”

Aku melebarkan mata. Apa? Pantas saja Sungmin sangat lama. Ternyata…

“Intinya, aku harus segera memastikan perasaanku sendiri. Aku harus segera menemukan jawaban dari semua permasalahanku ini. Dan, ketika Sungmin memberiku kata kunci itu, akhirnya aku menemukannya juga.”

Aku mengerutkan kening, “Kata kunci?” kataku heran.

“Kau tidak perlu tahu,” jawab Jaejoong sambil tersenyum

Aku mengerucutkan bibirku. Sebal, kukira dia akan mengatakan semuanya padaku. Ternyata masih saja ada yang dirahasiakan darinya, “Jadi, apa jawaban yang sudah kau temukan?”

Jaejoong menatapku. Lama sekali.

“Itu kamu, Lee Hwangrin.”

Aku terkesiap, “Ap—apa katamu?” degup jantungku langsung menggila. Apa maksudnya Jaejoong berkata seperti itu padaku? Ini sudah yang kedua kalinya sikapnya mengejutkanku hari ini.

“Jawaban dari semua permasalahanku. Tentang aku yang harus memastikan perasaanku sendiri. Itu kamu, Lee Hwangrin. Aku memilihmu.”

Ucapan yang terlontar dari Jaejoong sangat lancar. Tanpa ada keraguan sedikitpun. Dan air mataku langsung tumpah. Jaejoong mendekatiku dan langsung merengkuhku ke dalam pelukannya.

Hajiman…bukankah waktu itu kau bilang menyukai Min Ah? Ingin berada di sisinya?” kataku sambil terisak.

“Dan aku baru sadar bahwa itu pilihan yang salah. Aku terbawa suasana dan perasaanku dulu, Hwangrin.”

Air mataku semakin deras. Aku menangis keras. Tetapi ini bukan tangisan kesedihan. Ini tangisan…keharuan. Kebahagian. Kepuasan. Kelegaan.

Jaejoong semakin memelukku dengan erat, “Mianhae sekali lagi, Hwangrin-ah..Mianhae karena sudah membuatmu menangis…”

Aku melepaskan pelukan Jaejoong dan menatapnya, “Ne, gwaenchana..” aku mencoba tersenyum. Rasanya jika di hadapan Jaejoong, aku bisa tersenyum kapan pun yang aku mau.

Jaejoong menyentuh pipiku, “Saranghae, Lee Hwangrin.” dan dia kembali menciumku.

Nado saranghae, Kim Jaejoong…

December 26th. 16.10 PM

Sungmin tersenyum kecil. Akhirnya Jaejoong sudah menemukan jawabannya. Tidak sia-sia Sungmin berulang kali menasehatinya.

Sungmin menatap kembali Jaejoong dan Hwangrin yang sekarang saling tertawa dari celah pintu. Apa ini saatnya Sungmin masuk ke dalam rumah? Bagaimana sebaiknya dia berkata? Apakah berkata ‘oppa pulang, maaf terlambat—lho, ada Jae di sini?’ atau ‘oppa pulang! Oppa tadi melihat kalian berciuman, lho!’

Di saat Sungmin yang tengah berpikir keras, tiba-tiba pintu depan terbuka, Sungmin yang sedang bersandar di pintu itu otomatis langsung terlonjak kaget. Untung saja dia tidak jatuh.

“Ming? Kau ada di sini?” Hwangrin melebarkan matanya begitu melihat sosok Sungmin.

Sungmin berbalik. Hwangrin dan Jaejoong terlihat di hadapannya. dua-duanya menatap Sungmin heran, “Eh, iya. Hwangrin-ah.” Sungmin cengengesan.

Hwangrin menatap Sungmin penuh selidik, “Sudah sejak kapan kau berada di sini?”

Kali ini Sungmin tersenyum nakal, “Sudah sejak oppa mendengarmu menangis. Bagaimana rasanya berciuman dengan Jaejoong, Hwangrin-ah?”

Sontak wajah Jaejoong dan Hwangrin langsung memerah.

“KAU MENGINTIP?!” teriak Hwangrin histeris.

“Yah, bagaimana lagi. Memang takdir yang menentukan seperti itu sih,”

“LEE SUNGMIN!”

Sungmin tertawa keras. Lalu segera kabur begitu tahu Hwangrin mulai menuju ke arahnya, “Jae-ah! Aku titip bahan masakan yang ada di bawahmu itu ya! Kalau bisa kau masak saja! karena sepertinya Hwangrin masih akan lama bermain kejar-kejaran denganku!” ucap Sungmin sebelum dia benar-benar berlari dengan kencang.

“Aku tidak bisa masak, baboya!” Jaejoong menjawab dengan teriakan juga.

“Terserah! Ini perintah kakak iparmu, tahu! Dan, jangan sebut aku ‘baboya’!”

“KAU KAN MEMANG BABO, LEE SUNGMIN! JANGAN KABUR!”

December 31st. 07.23 AM

“Begitu, baiklah, aku mengerti.”

Mianhae,” Jaejoong menatap Min Ah lekat-lekat.

Yeoja yang dipandang hanya tersenyum kecil, “Tidak apa. Tidak usah serius seperti itu. Lagipula ini kan pilihanmu sendiri.”

Jaejoong juga tersenyum. Min Ah memang orang yang sangat baik. Walaupun Jaejoong tahu, ada sebersit kepedihan yang terpancar jelas di mata Min Ah, tetapi yeoja itu tetap kuat dan masih tersenyum tegar.

“Aku pergi dulu ya, Min Ah. Jaga dirimu.” Jaejoong menepuk pelan pundak Min Ah dan beranjak pergi.

Min Ah menghela napas pendek. Lalu menatap sosok Kim Jaejoong yang semakin menjauh dari pandangannya.

Juga hatinya.

Tidak. Dia tidak boleh menangis. Min Ah sudah berjanji pada dirinya sendiri akan menerima keputusan apapun dari Jaejoong, walaupun dia sudah meduga akhirnya akan seperti ini.

Saatnya Min Ah untuk bangkit. Dia tidak boleh terus-terusan terpuruk seperti ini.

Suatu saat pasti ada seseorang yang akan mengisi hati Min Ah kembali. Pasti.

Drrtttt.

Min Ah merogoh saku jaketnya. Begitu mendapatkan ponselnya, sejenak dia tertegun melihat siapa yang menelponnya.

Kim Heechul is calling..

Pandangan Min Ah menerawang. Tiba-tiba saja dia teringat semua kenangannya bersama Heechul. Saat pertama kali berpacaran dengannya, semua kenangan manis bersamanya, sampai saat kejadian Natal kemarin.

“Apa kau pernah menyukaiku, walau hanya sedikit saja?”

Perkataan Heechul waktu Natal kembali teringat oleh Min Ah.

Saat itu, Min Ah melihat sorot mata Heechul yang benar-benar diliputi rasa kesedihan yang mendalam. Keputusasaan. Dan sorot mata itu karenanya.

Hati Min Ah kembali bergetar begitu memikirkan itu. Mengapa baru sekarang dia menyadarinya? Bahwa menyakiti Heechul benar-benar membuat dirinya jauh lebih sakit.

Min Ah menekan tombol hijau di ponselnya, “Annyeong, Heechul-ah?”

Baru saja Min Ah kembali menemukan jawaban lain dari hatinya. Dan dia akan mengatakan jawaban itu saat ini juga. Kepada sosok yang selama ini selalu menunggunya.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s