A Twist in My Story [Chapter 5]

ATIMS new

Previous Part (published in EXOFF) : || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 ||

Cast : Cho Soyeon (OC), Byun Baekhyun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Seo Sangmi (OC) | Genre : AU, School Life, Romance, Humor, Friendship, Family

“Setiap orang pasti memiliki lika-liku dalam hidupnya. Bagaimana jika dalam sehari muncul dua orang yang membuat kehidupanmu berubah drastis?”

   Enjoy!

A Twist in My Story © seijurossi

Chapter Five: We ‘Just’ Going Out Together

Normal Point of View

Hari-hari seorang Cho Soyeon masih berlangsung seperti biasa.

Bedanya, dia sudah bisa menyesuaikan diri dengan rutinitas pagi barunya, yaitu bangun lebih awal. Hal itu terpaksa dilakukannya karena tidak ingin menjadi sasaran air dingin yang disiramkan oleh Jongin lagi. Tetapi tidak jarang juga tingkah Jongin membuat Soyeon ingin menendangnya keluar dari rumah. Seperti sengaja mandi lebih lama di kamar mandi—yang sempat membuat Soyeon akhirnya telat walapun sudah bangun lebih pagi, beberapa kali mencoba mengintip Soyeon—walaupun hanya bercanda tetap saja Soyeon kesal, menggangunya ketika sarapan, dan masih banyak lagi.

Seperti biasa reaksi kedua orangtua Soyeon hanya, “Wah, Appa dan Eomma senang akhirnya kalian bisa akrab seperti ini.” tetapi begitu Soyeon sudah kelewat marah pada Jongin, reaksi Eomma langsung, “Soyeon, kamu jangan kasar gitu dengan Oppa-mu.”

Dengan tekanan batin yang dirasakan Soyeon setiap hari, begitulah hari-harinya berlalu selama sebulan. Bahkan semenjak insiden mati listrik ketika Jongin menemani Soyeon mengerjakan tugas di kamar, sikap Jongin tetap tidak berubah. Soyeon kira setidaknya Jongin akan menunjukan perlakuan baik lainnya lagi kepadanya, tetapi sepertinya dia terlalu banyak berharap.

“Eh, sudah mau berangkat?” Miyeon, Eomma Soyeon, menatap Jongin yang sudah membereskan sarapan paginya.

Jongin mengangguk. “Aku berangkat dulu, Eomma, Appa,” ujarnya kemudian langsung menuju ke bus sekolah yang sudah menunggu di depan rumah.

“Hm, akhir-akhir ini Jongin suka berangkat lebih pagi, ya?” Miyeon melirik ke Jongro—Appa Jongin. Jongro menurunkan koran lalu meneguk kopi panasnya. “Ya, maklumi saja. Anak itu memang selalu sibuk.”

Soyeon menatap Appa dan Eomma-nya sekilas. Kalau dipikir-pikir memang akhir-akhir ini Jongin jadi lebih sering berangkat pagi-pagi sekali kemudian bisa pulang sampai malam. Tetapi sepertinya hal itu sudah dianggap biasa oleh Appa karena beliau nampak tidak terlalu khawatir sama sekali.

“Mungkin dia sedang fokus untuk mempersiapkan ujian akhirnya lagi,” kata Jongro.

“Oh, ujian akhir kemampuan yang sempat kamu ceritakan padaku itu, jagi?” Jongro mengangguk lalu terkekeh pelan, “Karena itu, tidak usah khawatir, Miyeon.”

Sementara itu Soyeon hanya memandangi kedua orangtuanya seraya mengerutkan keningnya tidak mengerti.

Ujian akhir kemampuan apa?

~A.T.i.M.S~

At Soyeon’s school. Last Period.

“Anak-anak, dikarenakan ada rapat mendadak, jadi untuk jam terakhir ini kalian bisa belajar sendiri.”

Pengumuman singkat dari seonsaeng yang mengjara pelajaran terakhir membuat seisi kelas langsung bersorak gembira. Semua langsung sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ada yang bermain kartu, melanjutkan membaca buku, mengobrol santai dengan teman lain, tapi ada juga yang tetap belajar.

Di antara semua itu, Soyeon terlalu malas untuk melakukan apa-apa, jadi dia menyilangkan tangannya di atas meja untuk bersiap tidur. Kalau saja suara ponsel tidak mengganggunya. Soyeon mengambil ponsel yang dimasukkan di dalam laci mejanya. Dengan kesal dia membuka pesan baru dari aplikasi KakaoTalk miliknya. Ternyata Jongin yang mengirim chat barusan.

Jonginkim : Annyeong.

Soyeon mengerutkan kening. Jongin tidak pernah mengucap salam padanya di dunia nyata, bagaimana bisa dia mengucap salam di KKT? Lagipula, selama sebulan Soyeon tinggal serumah dengan Jongin, tidak pernah sekalipun Jongin mengirim chat yang mengandung basa-basi yang terkesan tidak penting. Dia selalu mengirim chat yang terus terang dan singkat. Saking singkatnya sampai Soyeon sempat ragu akan perbendaharaan kata yang Jongin tahu. Jadi intinya, Jongin pasti punya maksud terselubung.

ChoSY : Sehat?

Jonginkim : Hm nggak. Biasa aja.

Jonginkim : Kamu anak baik kan.

Jonginkim : Soyeon pasti anak baik lah ~

Entah mengapa Jongin yang selalu mengakhiri pesan menggunakan tanda titik sangatlah mengganggu bagi Soyeon.

ChoSY : Pasti ada maunya ya?

Jonginkim : Hm, nggak juga.

Jonginkim : Cuaca cerah ya.

Jonginkim : Cocok buat jalan-jalan kan.

Soyeon semakin terganggu. Jongin benar-benar tidak jelas hari ini.

ChoSY : Maumu apa.

ChoSY : Bilang atau aku block id-mu sekarang juga. S

etelah itu, pesan terakhir Soyeon baru dibalas 5 menit kemudian.

Jonginkim : Baiklah aku akan sangat berterus terang.

Jonginkim : Gantikan aku belanja bulanan. Uang belanja sudah kukirim ke kartu kreditmu. Aku ada latihan tambahan. List belanja sehabis ini akan kufotokan. Hanya sedikit, kok.

Jonginkim sent a photo.

ChoSY : Kamu bilang list satu kertas HVS ini SEDIKIT?

Jonginkim : Hey, sebenarnya Eomma minta sampai dua HVS, tetapi tentu saja aku menolak. Segitu tidak ada seberapanya.

ChoSY sent sticker *angry*

Jonginkim : Lakukan saja. Anggap saja ini yang harus kau lakukan karena dulu aku sudah berbaik hati menemanimu ketika lampu mati.

ChoSY : Kau ternyata diam-diam meminta imbalan??

Jonginkim : Lakukan saja. Nanti kau kena karma, lho.

“Arrrrgggghhhhhh,” Soyeon mengacak-acak rambutnya kesal. Sudah pasti. Jongin tidak mungkin sebaik itu padanya.

New message received.

Soyeon tidak perlu mengecek pesan barusan. Sudah pasti itu dari Jongin.

“Ah, Jongin sangat menyebalkan,” Soyeon mengeluh begitu melihat daftar belanjaan yang dikirim Jongin.

“Jongin siapa?”

Soyeon nyaris melempar ponselnya. Baekhyun tiba-tiba saja muncul dan langsung mengambil bangku di depan Soyeon persis. Wajahnya, seperti biasa, penuh dengan senyuman. “E-eh, kamu mendengarnya?” tanya Soyeon agak kikuk.

Baekhyun terkekeh pelan. “Daritadi aku memperhatikanmu, tentu saja aku mendengarnya. Jadi, Jongin itu siapa?”

“Ah, tidak. Dia hanya—Oppa?” Soyeon sendiri juga mempertanyakan pernyataanya. Baekhyun menarik alis.

Oppa? Bukankah kau ini anak tunggal, Soyeon-ah?” katanya, terlihat heran. Sangat wajar. Akhirnya Soyeon pun menceritakan yang sebenarnya mengenai situasi keluarganya saat ini kepada Baekhyun, termasuk Kim Jongin sialan itu.

“Ah, baiklah. Menarik sekali tiba-tiba kamu bisa mempunyai Oppa baru. Dia setahun di atasmu, Soyeon-ah?” tanya Baekhyun.

“Sebenarnya dia sepantaran denganku, tetapi karena, hmm, yah sesuatu hal, dia loncat kelas,” Soyeon tidak sudi menggunakan kata seperti ‘pintar’ atau ‘jenius’ untuk seorang Kim Jongin.

Baekhyun hanya mengangguk-angguk saja. Sepertinya dia menyadari bahwa Soyeon tidak memiliki hubungan yang baik dengan Jongin. Yah, baguslah. Pikir Soyeon. Pandangan Baekhyun langsung tertuju ke ponsel Soyeon yang masih menampilkan daftar belanjaan bulanannya. “Hari ini kamu ada rencana untuk belanja?” tanya Baekhyun langsung.

Soyeon yang menyadari itu langsung menutup foto itu. “Ah, ya, sepertinya iya,” jawabnya, merasa kurang yakin.

“Mau kutemani? Sekilas sepertinya itu banyak sekali, jadi kurasa kalau kutemani pasti bisa sedikit mengurangi bebanmu.”

Entah mengapa Baekhyun terdengar bersemangat ketika berkata hal itu. Hal yang membuat Soyeon berkeringat dingin. Sudah cukup pengalaman dirinya yang tiba-tiba harus menemani Baekhyun melihat-lihat sekolah, berusaha menghindari tatapan tajam dari para yeoja-yeoja kepada Soyeon. Kalau sekarang dia pergi berdua dengan Baekhyun, nasibnya akan berakhir seperti apa? Soyeon masih sibuk dengan pikiran negatifnya yang sudah bersarang di kepalanya, sampai tidak sadar jika sekarang Baekhyun sudah menarik tangannya keluar kelas seraya membawa tas Soyeon dan tasnya sendiri.

“Kamu ngapain?!” jerit Soyeon. Dilihat dari arah kemana Baekhyun membawa Soyeon, sudah jelas dia membawanya keluar gerbang.

“Kamu tahu kita tidak bisa meninggalkan sekolah sebelum bel—ya Byun Baekhyun!”

“Tidak usah khawatir, nanti aku akan sms kepada Park-nim kalau kita hanya akan berbelanja,” jawab Baekhyun santai.

Uh oh. Sekarang dia sudah berani membawa-bawa nama kepala sekolah mereka—alias Appa-nya Chanyeol. Dan sudah pasti kepala sekolah akan menuruti Baekhyun karena mereka sudah cukup dekat. Kalau sudah begitu, Soyeon tidak dapat berkata apa-apa lagi.

~A.T.i.M.S~

“Tadi kamu lihat mereka? Lagi-lagi Baekhyun bersama Soyeon!”

“Tiba-tiba keluar kelas. Sambil bergandengan tangan lagi. Sebenarnya mereka ada hubungan apa, sih?”

“Kurasa gosip mereka pacaran memang benar.”

“Bukankah jelas Baekhyun menyukai Soyeon?”

“Ah! Dasar perempuan ular! Aku benci Soyeon!”

Pembicaraan demi pembicaraan terus berlanjut, bahkan ketika Baekhyun dan Soyeon sudah pergi cukup lama. Kebanyakan dari mereka adalah cewek-cewek kelas Soyeon. Sangmi seolah tidak peduli dengan suasana kelasnya yang cukup ricuh saat ini. Dia bangkit dari kursinya dan menuju ke arah Chanyeol. “Chanyeol-ah, kamu tahu kemana Baekhyun dan Soyeon pergi?” tanya Sangmi tanpa basa basi. Sedikit terkekeh karena Sangmi justru menganggap Baekhyun dan Soyeon itu lucu karena pergi dengan tiba-tiba.

Chanyeol, di luar dugaan, justru menatap Sangmi dengan bingung.”Aku juga nggak tahu. Mereka pergi begitu saja tanpa memberitahuku sama sekali.” Dari nada suara Chanyeol, terlihat jelas jika dia agak kesal.

Sangmi mengerutkan kening. “Kenapa? Kamu nggak suka kalau mereka pergi berdua saja?”

“Ah, nggak gitu. Sangmi-ya. Aku hanya bertanya-tanya kenapa mereka tiba-tiba pergi berdua saja,” Chanyeol terkekeh kecil. Tetapi ekspresinya tidak terlalu membantu.

Sangmi yang melihat itu hanya bergumam kecil. “Aku dengar dari Sehun, dulu sewaktu SD Baekhyun dan Soyeon sering jalan bersama dan kamu juga tidak ada masalah. Tetapi kenapa sekarang sepertinya keadaan sudah mulai berubah?”

Kali ini, pertanyaan Sangmi cukup memojokkan Chanyeol. Tetapi Chanyeol berusaha menahan air mukanya untuk tetap tenang. “Sangmi-ya. Sudah kubilang, aku hanya penasaran dengan kepergian mereka secara tiba-tiba. Aku bukannya—“

‘—suka dia.’

‘Nggak apa. Aku tahu pasti seenggaknya kamu ada rasa buat dia, Yeol.’

Chanyeol terdiam sejenak. Teringat akan percakapannya dengan seseorang dulu.

‘Aku sepertinya menyukai Soyeon. Kamu mau bantu aku kan?’

Iya. Chanyeol sebenarnya tidak ada masalah kalaupun Soyeon dan Baekhyun pergi bersama. Hanya saja semenjak kejadian itu, semua pikiran Chanyeol ke Soyeon berubah.

‘Dia siapa, Chanyeol?’

~A.T.i.M.S~

Soyeon mungkin harus berterimakasih kepada Baekhyun.

Meski awalnya dia merasa belanja bersama Baekhyun bukan rencana yang bagus, tertapi kali ini Soyeon harus menyangkal itu. Karena berkat Baekhyun, belanja bulanan kali ini terasa sangat cepat dan efisien. Itu karena begitu mereka sampai di supermarket, Baekhyun langsung menuju ke arah sales dan memintanya untuk membawakan semua daftar belanjaan Soyeon. Sales—yang kebanyakan adalah seorang wanita—tentu saja langsung menuruti perkataan Baekhyun. Siapa yang bisa menolak senyuman menggemaskan seorang Byun Baekhyun? Jadi dengan hanya 15 menit, semua daftar belanja bulanan Soyeon yang sangat banyak, dapat selesai dengan cepat.

“Kamu benar-benar hebat,” puji Soyeon ketika sedang duduk santai di kafe kecil yang terletak di pinggir jalan Apgujeong. Saat ini pukul empat sore. Banyak orang yang berlalu-lalang di sepanjang jalan. Soyeon dan Baekhyun mengambil tempat duduk di luar kafe karena Baekhyun bilang ingin menikmati minuman selagi melihat banyak orang berjalan.

Baekhyun terkekeh kecil. “Sepertinya aku sudah melakukan sesuatu yang melebihi ekspektasimu sampai-sampai kamu terus memujiku. Ini sudah yang kelima kalinya aku menghitung pujianmu, Soyeon-ah.”

“Nggak, tapi benar-benar, aku sampai pangling ketika semua sales menurutimu untuk membawakan semua daftar belanjaan ini. Rasanya kamu seperti tuan muda bagi mereka,” giliran Soyeon yang terkekeh. Bersama dengan Baekhyun kadang selalu membuatnya mengalami sesuatu yang baru, dan itu terasa menyenangkan.

Melihat Soyeon seperti itu membuat Baekhyun mengulas senyum. Dia selalu ingin membuat Soyeon senang seperti itu. Seperti dulu lagi. Tetapi Baekhyun memperhatikan Soyeon akhir-akhir ini tidak begitu bersemangat. Karena itu, selagi ada kesempatan seperti tadi, dia ingin mengajak Soyeon jalan-jalan bersamanya. Berharap bisa membuat suasana hati Soyeon berubah menjadi lebih ceria. Dan Baekhyun berhasil. Karena itu dia tak ada henti-hentinya tersenyum lebar kali ini. .

Soyeon terlalu sibuk mengobrol dengan Baekhyun di depan kafe tempat mereka minum, sampai tidak sadar ada seseorang yang melihatnya dari kejauhan, dan berusaha untuk menghindari bertatapan secara langsung. Kini orang itu berjalan di belakang temannya dengan hati-hati.

Ya! Kenapa tiba-tiba bersembunyi di belakangku?” tanya teman orang itu kesal.

“Ssst ssst diamlah, Minseok-hyung. Aku sedang berusaha untuk tidak terlihat di hadapan anak itu,” katanya seraya menunjuk Soyeon di seberang sana.

Yang dipanggil Minseok mengerutkan kening. “Dia yang katamu sekarang adalah dongsaeng-mu, Jongin-ah?”

“Yah apapun itu. Aku nggak mau terlihat di hadapannya sekarang. Karena itu bantu aku untuk menyembunyikan diri, Minseok-hyung,” Jongin masih tetap berjalan di belakang Minseok persis.

Minseok memutar mata. “Kamu nggak bilang pada dia kalau kamu part-time di barku?”

“Nggak. Bahkan pada keluargaku juga.”

“Ckckck. Dasar anak muda.”

“Iya, kau tua makanya tidak mengerti perasaan anak muda.”

Ya!”

Akhirnya setelah berhasil melalui Soyeon dan Baekhyun, Jongin langsung menempatkan dirinya di sebelah Minseok, menuju ke bar tempat Jongin part-time. Tadi mereka sedang keluar sebentar untuk membeli late lunch untuk Minseok karena dia belum makan. Dan tentu saja Jongin tidak mungkin memunculkan dirinya di hadapan Soyeon karena setahu Soyeon, dia sedang ada latihan tambahan di sekolah.

“Minseok-hyung, jangan lupa hari ini aku dapat gajiku,” Jongin menaruh plastik berisi ramyun siang untuk Minseok di atas meja begitu mereka sampai di bar. Minseok hanya merespon sekadarnya. Satu hal yang membuat dirinya kesal oleh Jongin, selain dia tidak sopan dengannya, dia selalu saja mengingatkannya akan gaji untuk Jongin. Walaupun Minseok tahu alasan utama mengapa Jongin selalu ingin segera digaji itu apa.

“Tunggu sampai kau selesai bekerja hari ini, nanti akan kuberi gajimu bulan ini,” jawab Minseok selagi melepas beberapa kancing kemejanya karena merasa terlalu panas.

“Baiklah, hyung. Apapun asalkan aku dapat gajiku.”

Minseok mengambil ramyun dari plastik yang dibawa oleh Jongin dan mulai mengisinya dengan air panas. “Sampai sekarang kamu masih nggak menyerah terhadap cewek itu, ya,” ujar Minseok.

Jongin menatap Minseok. Sinar matanya terlihat serius. “Tentu saja. Aku tidak akan menyerah semudah itu padanya.”

to be continued.

One thought on “A Twist in My Story [Chapter 5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s