Winter Tears Part 1

WINTER TEARS

Cast : Jaejoong (JYJ), Heechul (SJ), Hwangrin (OC), Min Ah (OC) |Genre : AU, Angst, Sad, Romance

“Aku hanya ingin berbahagia bersamanya, hanya itu permohonanku. Tetapi mengapa akhirnya menjadi seperti ini?”

ENJOY!

Winter Tears Part 1 © seijurossi (@chantyolk)

 

December 24th. 14.55 PM

Suasana Natal semakin terasa hidup seraya aku melangkahkan kedua kakiku. Sepanjang jalan yang kulewati, hampir seluruh keluarga menghiasi pohon Natal mereka masing-masing. Rasa bahagia terpancar jelas di wajah mereka. Tentu saja di momen penting seperti itu, semua orang harus merasa bahagia. Aku pun juga begitu.

Malam ini pasti akan sangat berkesan untukku. Hari ini, kekasihku, Kim Jaejoong, akan makan malam di rumahku. Berdua saja.

Aku sudah lama menantikan hal ini semenjak berpacaran dengannya. Karena meskipun kami terbilang pacaran, tetapi kami tidak melakukan hal-hal seperti yang selalu dilakukan oleh pasangan lainnya. Kami tidak berkencan, tidak membeli barang yang sama, tidak saling memanggil dengan sebutan ‘chagi’ dan hal tidak biasa lainnya.

Itu sebabnya, ketika Jaejoong berkata akan makan malam di rumahku serta menemaniku melihat pohon Natal di pinggir Sungai Han, aku senang sekali. Rasanya ini merupakan hadiah Natal untukku yang pertama.

Begitu sampai di rumah, aku langsung menaruh seluruh belanjaanku untuk makan malam nanti dan mulai merapatkan kedua tanganku.

Aku berdoa kepada-Nya. Semoga hari Natal ini aku akan berbahagia bersama Jaejoong. Semoga hubungan kami akan bertahan selamanya… tanpa ada sesuatu yang mengusik kami.

December 24th. 16.12 PM

Kim Jaejoong merapatkan coat hitamnya begitu keluar dari sebuah toko. Ia menatap bingkisan yang sudah terbungkus rapi di tangannya. Hari ini dia akan mengunjungi rumah Lee Hwangrin untuk yang pertama kalinya. Maka dari itu, dia sudah mempersiapkan segala sesuatu yang telah direncanakannya jauh-jauh hari.

Jaejoong bertekad tidak akan merusak hari pentingnya bersama Hwangrin nanti malam. Sedikit demi sedikit Jaejoong berusaha melupakan sosok yang pernah lebih dulu singgah di hatinya sebelum Hwangrin.

Walaupun sosok itu, Song Min Ah, sudah memutuskan hubungannya dengan Kim Heechul, mantan kekasihnya itu, Jaejoong harus melupakannya. Meski sulit. Karena dia selalu teringat kejadian yang belum lama terjadi itu..

 “Kau ingin bicara apa, Min Ah?”

“Mianhae, kurasa kita sebaiknya putus saja, Heechul-ah.”

“…kenapa? Apa alasanmu?”

“Aku..aku sebenarnya menyukai Jaejoong. Tetapi dia menolakku. Kupikir dengan berpacaran denganmu bisa menghapus perasaan yang kurasakan ini, tetapi ternyata tidak..”

Jaejoong terkesiap. Dia membatu di balik pintu kelas. Niatnya yang semula ingin mengambil barang menjadi hilang seketika begitu dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Min Ah dan Heechul.

Sampai sekarang pun, Jaejoong tidak menyangka semuanya akan berkembang menjadi seperti ini. Karena sebenarnya dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan Min Ah—bahkan ketika Min Ah menyatakan perasaannya kepadanya—tetapi Jaejoong harus menolaknya karena tidak ingin menyakiti sahabatnya.

Ya, Jaejoong tidak ingin melukai perasaan sahabatnya, Kim Heechul, yang waktu itu juga tengah menyukai Min Ah.

December 24th. 19.14 PM

Ting Tong

Min Ah bergegas menuju ke pintu, malam ini kedua orang tuanya akan pergi sampai larut malam. Dan itu berarti Min Ah sendirian di malam Natal tahun ini. Sedikit miris karena seandainya dia tidak mengatakan hal itu kepada Heechul 2 hari yang lalu, mungkin saat ini Heechul sedang berada di depan rumahnya, membawa kue dari tokonya, dan berkata..

Annyeong, Min Ah. Aku membawa kue untukmu.”

Min Ah terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Di hadapannya, dan sama persis seperti bayangannya barusan, berdiri Kim Heechul yang hanya mengenakan pakaian tipis—bahkan jaketnya bukan jaket khusus—serta syal rajutan pemberian Min Ah dulu. Senyum menghiasi wajahnya, meski Min Ah tahu bahwa itu bukan senyum yang berasal dari lubuk hatinya.

“Kau…kenapa….” Min Ah tidak bisa berkata apa-apa. Dia masih sulit memahami jalan pikiran Heechul. Mengapa dia masih bisa menemuinya sambil tersenyum seperti itu, padahal pertemuan terakhir mereka sebelum ini benar-benar meninggalkan kesan yang kurang berkenan?

Senyum Heechul perlahan memudar, “Kumohon, izinkan aku masuk, Min Ah. Di luar sangat dingin.”

Min Ah bahkan tidak sadar bahwa dia masih berada di ujung pintu rumahnya yang belum sepenuhnya terbuka itu. Dengan ragu, Min Ah mempersilahkan Heechul masuk ke dalam.

Entah mengapa, melihat Heechul saat ini membuat hati Min Ah terasa sakit.

December, 24th. 19.27 PM

“Selamat datang di rumahku, Jeje!” aku menyambut kedatangan Jaejoong dengan gembira. Kuajak dia menuju ruang makan yang sudah kudekorasi dengan baik.

“Kau yang menghias ini semua?” tanya Jaejoong takjub. Pandangannya mengarah ke seluruh ruang makan sampai ia terhenti di sebuah pohon Natal.

Aku mengikuti arah pandangan Jaejoong sambil tersenyum kecil, “Cantik kan? Aku menghias pohon ini dari tadi siang, lho.”

Jaejoong balas tersenyum, “Iya, cantik sekali. Kau benar-benar sudah bekerja keras ya mempersiapkan ini semua.” Kurasakan tangannya menyentuh kepalaku seraya mengelusnya.

Aku tidak bisa menahan debar jantungku. Omona, padahal makan malam saja belum, masa aku sudah berdebar seperti ini sih? Ayolah, tenanglah, jantungku..

Ah, aku akan mengeluarkan makan malam ya, kau duduk saja duluan di situ.” Aku menunjuk satu kursi lalu saat Jaejoong tengah melihat kursi itu, dengan cepat, aku langsung menuju dapur.

Setelah menaruh seluruh makanan—buatanku, tentu saja—di atas meja, aku pun duduk dan menatap Jaejoong yang berada di seberang kursi denganku, “Nah, sebelum makan, mari kita berdoa dulu.”

Lalu kami merapatkan tangan masing-masing. Kira-kira 10 detik kemudian, kami selesai berdoa dan Jaejoong langsung mencicipi satu persatu makanan yang sudah kumasak dengan penuh cinta untuknya.

“Seperti biasa, masakanmu selalu enak ya, Hwangrin. Benar-benar cocok menjadi istri yang baik.” Jaejoong terkekeh pelan. Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku yang pasti sudah menjadi kepiting rebus. Jaejoong memang suka menggodaku, tetapi aku selalu menikmatinya.

Selesai makan, aku segera memberitahu Jaejoong mengenai hadiah Natal, “Mianhae, aku tidak mempunyai hadiah apapun untukmu, tetapi sebagai gantinya kau sudah menikmati semua masakanku, kan?” aku tertawa, berharap Jaejoong tidak marah.

Jaejoong menggeleng pelan, “Gwaenchanaeyo, Hwangrin. Aku yang mempunyai satu hadiah untukmu,” Jaejoong mengeluarkan sebungkus kado kecil dari saku celananya, “ini untukmu. Bukalah.”

Aku tidak bisa berkata apapun ketika aku melihat sebuah kalung yang terdapat di dalam kado tersebut. Aku memandang Jaejoong dan kalung itu bergantian. Jaejoong mengangguk kecil, seolah meyakinkanku bahwa kalung ini memang untukku.

Gamsahamnida, Jeje.” ucapku. Pandanganku mulai menjadi kabur. Astaga, masa secepat ini aku menangis?

Jaejoong bangkit dari tempat duduknya. Dia mengambil kalung yang saat ini kupegang, lalu perlahan membelakangiku.

Dia memasangkan kalung pemberiannya di leherku.

Aku terharu. Terpana. Jaejoong menatapku. Aku balas menatapnya dengan senyuman terindah yang kumiliki.

Aku bahagia. Ya, aku sangat bahagia.

December 24th. 19.33 PM

“Kue ini sengaja aku pesan khusus untukmu, karena aku tahu kau pasti akan menyukainya.”

Min Ah menatap Heechul. Saat ini mereka berdua berada di ruang tengah. Setelah Min Ah mengijinkan Heechul masuk, sempat terjadi keheningan yang cukup lama sebelum Heechul memulai pembicaraan.

Heechul membuka bungus kue yang ia bawa, memotongnya dengan pisau yang sudah tersedia, dan menyodorkannya kepada Min Ah, “Ayo makan,” katanya.

Min Ah menerimanya dengan ragu-ragu, “Gamsahamnida,” katanya sambil tersenyum kaku. Lalu Min Ah mulai memasukan kue tersebut ke dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.

Memang enak. Kue ini adalah favorit Min Ah, tetapi entah mengapa dia tidak merasa senang. Justru rasa bersalahnya kian membesar.

“Oh ya, di Sungai Han akan ada pameran pohon Natal malam ini. Kudengar banyak sekali orang yang berkumpul di situ,”

Min Ah tidak mengatakan apapun. Dia memandang bungkus kue yang berada di genggamannya. Alisnya mengerut. Dalam hatinya merasa gelisah.

“Bagaimana kalau kita pergi bersama? Setelah itu aku akan mengajakmu ke sebuah restoran yang baru saja dibuka minggu lalu,”

Min Ah terkesiap, tetapi dia berusaha menyembunyikan raut wajahnya. Kepalanya semakin tertunduk. Bisa dirasakan bungkus kue yang ia genggam mulai retak. Mengapa…? Mengapa dia harus berkata seperti itu?

“…aku jamin kau akan menyukai makanannya. Dan oh ya, tenang saja, kau akan kutraktir, anggap saja ini sebagai hadiah Natal dariku untukmu.”

“Heechul,” Min Ah memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Dia menatap mata besar Heechul dengan perasaan berkecamuk.

Heechul menoleh dan memandang Min Ah. Min Ah semakin terkesiap. Tatapan itu penuh dengan kehangatan. Tatapan itu menunggunya dan terdapat kelembutan yang luar biasa. Seolah yang ditatapnya itu adalah sosok yang sangat berarti baginya. Dan orang yang ditatap seperti itu adalah Min Ah.

Keraguan mulai menjalar dalam perasaan Min Ah. Haruskah dia tetap bersikeras akan perasaannya? Atau kembali kepada kehangatan serta kelembutan yang sedang menunggunya di hadapannya?

Akhirnya Min Ah membuka mulutnya, “Mianhae, Heechul, sepertinya aku terlalu egois padamu. Aku…aku…” suara Min Ah mulai bergetar, “aku tidak menyadari sebelumnya kalau kau sangat perhatian denganku. Aku justru dengan seenaknya menyakitimu dengan perkataan bodohku…karena itu, Mianhae.”

Tidak ada reaksi dari Heechul. Dia masih menatap Min Ah. Hanya saja sorot matanya berubah menjadi kosong dan dingin. Min Ah menjadi sedikit takut karenanya.

Setelah terjadi keheningan beberapa saat, Heechul mulai menampakan reaksinya, “Min Ah, apakah kau pernah…” Heechul menghentikan perkataannya. Dia mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Uap udara dingin muncul ketika Heechul menghembuskan napasnya. Heechul memajukan badannya, menumpukan kepalanya di atas kedua tangannya yang sudah saling mengait satu sama lain, “…memikirkan hanya diriku seorang saja, tanpa ada bayangan laki-laki lain?”

Min Ah tidak mengira bahwa Heechul akan berbicara seperti itu. Bibirnya bergetar pelan, “A—apa?”

Heechul melanjutkan perkataanya, “Apa kau pernah menyukaiku, walau hanya sedikit saja?”

Tubuh Min Ah menegang. Dia menggigit bibit bawahnya untuk sebisa mungkin menahan air matanya. Lalu perlahan dia mengangguk kecil, “Mm,” bahkan Min Ah benar-benar sulit untuk mengucap satu kata.

Heechul beralih menatap tajam Min Ah, “Kau bohong.”

Mata Min Ah sontak melebar, mengapa Heechul berkata seperti itu?

“Kau pernah bilang bisa menghapus perasaanmu terhadapnya jika berpacaran denganku. Tetapi nyatanya tidak bisa, kan? Aku tahu kau hanya menganggapku sebagai pelarian. Tidak lebih.”

Kali ini Min Ah mulai terisak pelan, “Itu tidak benar, Heechul. Aku juga mempunyai perasaan terhadapmu—“

BRAK!  Heechul menggebrak meja dengan keras. Min Ah terlonjak kaget, bungkus kue yang ia bawa terjatuh. Heechul mengambil napas terengah-engah, nampak menahan emosi yang sudah tertanam kuat di dalam hatinya. Sorot matanya semakin tajam menatap Min Ah, yang membuat gadis itu mundur perlahan. Min Ah ketakutan. Baru pertama kali ini dia melihat Heechul yang biasanya bersikap tenang bisa melakukan hal seperti ini.

“Lalu kenapa…” Heechul berkata dengan suara yang tertahan, “…KENAPA HARUS JAEJOONG?!”

Min Ah langsung shock. Air matanya tidak dapat tertahankan lagi. Tubuhnya gemetar. Dia semakin mundur hingga tubuhnya sudah menempel di dinding, lalu terduduk lemas.

“Setiap kali aku memikirkan tentang perasaanmu yang tidak seutuhnya untukku, aku selalu dibakar rasa cemburu. Tetapi aku tetap menyukaimu, aku berharap kau akan memandangku secara utuh. Aku berusaha keras!”

Min Ah berusaha merespon perkataan Heechul, “Kau…” tatapannya menyiratkan rasa heran.

Heechul tertawa pelan, “Kau kira aku tidak tahu? Aku tahu semuanya, Min Ah, tentang kau yang sebenarnya sudah menyukai Jaejoong sejak lama. Aku tahu itu semua,” kali ini Heechul beralih menatap langit-langit ruang tamu, “maka dari itu aku yang meminta Jaejoong…supaya membantuku untuk mendapatkanmu. Jaejoong itu orang yang sangat baik, dia rela membantu perasaan sahabatnya sendiri…” Heechul kembali menatap Min Ah, “…daripada perasaannya sendiri.”

Kening Min Ah berkerut. Jadi maksudnya…

“Jaejoong juga menyukaimu, Min Ah.”

Kali ini Min Ah tidak dapat menahan rasa keterkejutannya. Jadi sewaktu Jaejoong menolaknya, itu karena dia tidak ingin melukai perasaan Heechul. Air mata Min Ah semakin mengalir deras. Heechul yang melihatnya langsung berkata pelan, “Pergilah…”

“Eh?”

Heechul memalingkan wajahnya, “Pergilah menemui Jaejoong…”

Lagi-lagi Min Ah terkejut, “Ta—tapi…” saat ini dia sangat bingung. Jika ia menemui Jaejoong, bagaimana dengan Heechul?

Sorot mata Heechul mulai menunjukan emosi lagi, lalu dengan sekali sentakan..

PRANG! Heechul melempar kasar gelas kaca yang berada di atas meja sehingga gelas itu pecah.

“PERGI! ATAU KUBUAT KAU TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKANKU LAGI!!”

Tubuh Min Ah kembali bergetar hebat. Sekuat tenaga dia berusaha bangkit. Dan begitu dia berhasil bangkit dia segera menuju pintu depan. Diliriknya sekilas sosok Kim Heechul yang lagi-lagi menumpukan kepalanya di atas jemarinya yang sudah saling mengait.

Mianhae… jeongmal mianhae…” ujar Min Ah dengan suara lirih. Air matanya kembali mengalis deras. Lalu dia membuka pintu depan.

BLAM!  pintu tertutup.

Heechul mendesah pelan, “Bodoh…tidak usah meminta maaf seperti itu…” Heechul mengadahkan kepalanya. Menahan air matanya yang sudah berada di pelupuk mata “Harusnya aku yang meminta maaf…kau benar-benar bodoh, Song Min Ah…”

December 24th. 20.04 PM

Gamsahamnida atas makanannya,” Jaejoong menaruh alat makannya. Aku mengangguk kecil seraya tersenyum. Persiapanku hari ini benar-benar sukses. Aku senang sekali.

“Oh ya, kita jadi akan melihat pohon Natal di Sungai Han, kan?” tanyaku. Selain makan malam di rumahku, kami memang berencana akan melihat berbagai macam pohon Natal yang dipamerkan di dekat Sungai Han. Kudengar banyak sekali pasangan yang pergi ke situ, jadi aku menyimpulkan bahwa tempat itu sangatlah romantis sekali. Aku tidak sabar ingin segera pergi ke sana.

Jaejoong mengangguk, “Tentu saja. Kau segeralah bersiap-siap. Aku akan menunggumu di sini,”

“Baiklah, tunggu aku,” aku bergegas menuju ke kamarku yang letaknya tidak jauh dari ruang makan. Begitu sampai, aku langsung berganti baju. Semua ini kulakukan secepat mungkin. Aku tidak ingin membiarkan Jaejoong menunggu lama.

Dalam waktu 5 menit, aku sudah siap untuk pergi. Kembali aku menuju ruang makan, tetapi sebelum aku masuk, langkahku terhenti sejenak karena mendengar dering ponsel. Sedetik kemudian aku menyadari bahwa itu dering ponsel Jaejoong. Ketika aku akan melangkahkan kakiku lagi untuk masuk ke dalam ruang makan, langkahku tertahan karena Jaejoong menyebut nama yeoja itu.

“Min Ah?”

About 5 minutes before…

“Tentu saja. Kau segeralah bersiap-siap. Aku akan menunggumu di sini,”

“Baiklah, tunggu aku,” Hwangrin keluar dari ruang makan. Jaejoong beranjak dari tempat duduknya, merapikan pakaiannya, kembali mengecek rambutnya kembali. Hal ini selalu dilakukannya karena Jaejoong sangat peduli dengan penampilannya.

Ponsel Jaejoong berbunyi. Tangan Jaejoong segera merogoh ponselnya di dalam saku coat hitamnya. Begitu dapat, Jaejoong melihat nama yang tertera di layar ponsel. Seketika dirinya terpaku.

Song Min Ah is calling…

Butuh beberapa saat sebelum akhirnya Jaejoong memutuskan untuk mengangkat teleponnya, “Min Ah?” katanya. Dalam hatinya terdapat rasa penasaran. Mengapa gadis ini menelponnya?

“Jae-ah…” dari seberang telepon terdengar suara Min Ah memanggil nama Jaejoong. Tetapi suara gadis itu sedikit bergetar. Dan samar-samar terdengar suara isakannya.

Gadis itu menangis?

“Ada apa, Min Ah? Apa yang terjadi padamu?” seketika rasa penasaran dari diri Jaejoong berubah menjadi rasa khawatir.

“Jae-ah…” suara isakan Min Ah semakin keras. Dan Jaejoong yakin bahwa gadis itu memang sedang menangis.

“Min Ah, katakan padaku. Kau kenapa?”

“Aku…aku ingin bertemu denganmu saat ini…bisa?”

Jaejoong terdiam sejenak. Saat ini juga? Tetapi sebentar lagi dia akan pergi bersama Hwangrin. Apa yang harus dia lakukan? Siapa yang harus dia pilih?

“Kumohon, Jae-ah…aku sudah tidak kuat di sini sendirian..dingin sekali..”

Jaejoong tersentak, “Kau di mana? Aku akan segera menyusulmu.” Entah mengapa, begitu mendengar bahwa Min Ah sedang sendirian dan juga kedinginan, Jaejoong tidak tega membiarkannya.

Setelah Min Ah menyebutkan posisinya di mana, Jaejoong mengerutkan keningnya heran. Mengapa Min Ah bisa berada di tengah jalan di saat dingin seperti ini?

Arraseo. Tunggu aku.” Jaejoong menutup teleponnya.

Kriett. Pintu ruang makan terbuka. Hwangrin berada di pinggir pintu. Tengah memandang Jaejoong.

Jaejoong menghampiri Hwangrin. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa Hwangrin mendengar percakapannya dengan Min Ah barusan?

“Hwangrin-ah, mianhae, aku ada urusan mendadak,” akhirnya Jaejoong memutuskan untuk mengatakan ini juga.

Hwangrin tidak beranjak dari tempatnya. Dia masih memandang Jaejoong. Tetapi Jaejoong bisa melihat bibirnya bergetar.

“Kau mau ke mana? Pergi menemui Min Ah?” tanya Hwangrin. Oh, baiklah. Bahkan suaranya pun bergetar. Rasa bersalah mulai menghampiri Jaejoong. Sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan Hwangrin, tetapi..

Jaejoong mengangguk, “Ya, karena itu aku minta maaf.” Jaejoong keluar dari ruang makan dan menuju ke pintu depan. Tetapi Hwangrin sudah lebih dulu sampai. Tangannya membentang sehingga Jaejoong tidak bisa keluar.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi.” Hwangrim berkata tegas.

“Kumohon, Hwangrin. Kita bisa lihat pohon Natal di lain waktu.” Jaejoong mendekati Hwangrin, berusaha membuka pintu depan, tetapi Hwangrin langsung menghalanginya.

Andwae! Bukankah kau sudah berjanji padaku? Aku tidak mau kau meninggalkanku—“

Perkataan Hwangrin terputus karena Jaejoong sudah melumat bibirnya. Hwangrin terkejut karena ciuman yang tiba-tiba itu. Dan saat itu juga Jaejoong segera mendorong Hwangrin ke samping supaya Jaejoong bisa melewati pintu depan.

Mianhae, Hwangrin…” Jaejoong membuka pintu depan dan segera keluar.

“Tidak! Jeje—Jaejoong!” Hwangrin berusaha menahan Jaejoong tetapi dia sudah terlanjur keluar. Hwangrin terduduk di depan pintu. Tetes air mata mulai membasahi pipinya. Gadis itu menangis.

Tuhan…mengapa semua menjadi seperti ini? Aku hanya ingin berbahagia bersama Jaejoong, hanya itu permohonanku. Tetapi mengapa akhirnya menjadi seperti ini?

Hwangrin kembali menangis keras.

December 24th. 20.38 PM

Min Ah menggosok-gosokkan tangannya serta menghembuskan napas berulang kali supaya tangannya tetap hangat. Saat ini dia berada di taman dekat Sungai Han. Duduk sendirian tanpa memakai pakaian tebal. Memang nekat, tetapi sudah terlanjur. Dia tidak mungkin kembali ke rumahnya saat ini. Tidak jika harus bertemu dengan Heechul lagi. Min Ah butuh waktu setidaknya sebulan untuk siap bertemu dengan namja itu lagi.

Air matanya sudah kering. Dia sudah cukup lama menangis tadi. Dan sekarang dia berharap Jaejoong akan segera datang.

“Min Ah!”

Dari kejauhan, terlihat Jaejoong tengah menghampirinya sambil berlari. Min Ah sedikit tidak percaya karena Jaejoong benar-benar akan menemuinya. Pelan-pelan Min Ah bangkit dan saat itu juga Jaejoong memeluknya. Erat sekali. Min Ah merasakan kehangatan dari pelukan pertamanya dengan Jaejoong.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jaejoong. Dia masih memeluk Min Ah.

Min Ah menjawab dengan gumaman, “Mmm..” entah mengapa dia tidak ingin melepaskan pelukan hangat dari Jaejoong.

Tetapi kemudian Jaejoong melepaskan pelukannya, “Ada masalah? Tadi kau menangis…kan?” tanyanya lagi. Min Ah bisa menangkap rasa khawatir dan kecemasan dari mata bening Jaejoong.

“Iya…” Min Ah menunduk. Kejadian tadi masih berputar-putar di pikirannya. Tetapi dia tidak ingin membicarakan masalah ini dengan siapapun, terutama Jaejoong.

Jaejoong seolah mengerti apa yang dirasakan oleh Min Ah, dia mengajak gadis itu untuk duduk di bangku. Setelah itu Jaejoong melepaskan coat hitamnya dan menyodorkannya ke arah Min Ah, “Ini. Pakailah. Kau pasti sangat kedinginan.”

Min Ah menerima coat Jaejoong, “Gomawo, Jae-ah…” katanya seraya tersenyum kecil.

“Ingin kubelikan minum?”

“Tidak. Tidak usah. Aku tidak sedang haus.”

Kemudian, keheningan menyelimuti mereka berdua.

Min Ah yang memulai pembicaraan kembali, “Jae-ah, mianhae karena terus merepotkanmu selama ini. Dulu kalau tidak salah, aku pernah bilang tidak akan pernah mengganggumu lagi, tetapi ternyata aku sendiri yang melanggar ucapanku sendiri. Aku memang payah..” Min Ah tertawa getir.

“Tidak. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Aku justru senang kau mau menelponku di saat kau sedang butuh sandaran seperti ini,” Jaejoong menoleh ke arah Min Ah dan menatapnya dalam-dalam.

Hati Min Ah sedikit berdesir karena tatapan serta ucapan dari Jaejoong. Dia tidak berani membalas tatapan Jaejoong karena takut raut wajahnya saat ini akan ketahuan. Dia kembali menundukkan kepalanya.

“Min Ah, sebaiknya kau kuantar pulang sekarang. Udara di sini semakin dingin.” Jaejoong berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Min Ah. Gadis itu mengangguk dan menyambut uluran tangan Jaejoong.

Lagi-lagi hanya kehangatan yang Min Ah rasakan begitu bersentuhan dengan Jaejoong.

December 24th. 21.12 PM

Sedari tadi aku hanya terdiam di depan pintu. Air mataku tetap mengalir, tetapi tidak sederas tadi. Aku terus menangis tanpa suara. Malam ini…benar-benar di luar dugaanku. Semua permohonanku tidak ada yang terkabul. Aku dan Jaejoong tidak berbahagia. Oh, mungkin Jaejoong bisa bahagia karena sudah menemui yeoja itu, tetapi aku tidak.

Seharusnya aku tahu, ini resiko yang akan kuambil jika memutuskan untuk berpacaran dengan Jaejoong. Dia belum sepenuhnya melupakan Min Ah, walaupun berkali-kali sudah meyakinkanku bahwa dia telah melupakannya dan hanya mencintaiku seorang. Tetapi aku selalu ragu setiap kali ucapan itu terucap dari bibirnya. Dan ternyata benar. Hal ini terjadi juga.

Aku memutuskan untuk menuju ruang makan. Sebaiknya aku menghabiskan waktu untuk membereskan semuanya. Karena jika begini terus aku akan terus teringat tentang kejadian tadi.

Melihat ruang makan itu, dadaku terasa nyeri. Padahal, kurang dari sejam yang lalu, Jaejoong masih berada di sini bersamaku. Kami barusan makan bersama. Dan juga aku mengira bahwa malam ini akan menjadi malam yang sempurna bagiku, karena—

Ctas!

Aku terpaku. Kalung yang Jaejoong berikan padaku tiba-tiba saja putus dan jatuh ke lantai. Aku bergegas mengambilnya. Seketika perasaanku menjadi tidak enak. Dadaku semakin nyeri dan terasa sesak.

Sebuah pikiran terlintas di benakku, apa yang sedang Jaejoong dan Min Ah lakukan saat ini?

Memikirkan itu. Air mataku mulai meleleh lagi.

December 24th. 21. 31 PM

“Heechul sudah pulang,” Min Ah memandang pintu depan rumahnya yang sudah tidak ada lagi sepatu milik Heechul.

“Kalau begitu, kau sekarang bisa istirahat,” kata Jaejoong.

Sewaktu perjalanan pulang, Min Ah memutuskan menceritakan semua kejadian yang ia alami bersama Heechul. Setelah menceritakan semua itu, kini Min Ah merasa lega.

Min Ah mengangguk kecil, “Gomawo sekali lagi, Jae-ah…karena sudah mendengarkan ceritaku serta mengantarku pulang. Kau baik sekali,” Min Ah tersenyum lalu segera melepaskan coat hitam pinjaman Jaejoong, “ini coatmu. Sekali lagi terima kasih…mungkin selamanya aku akan terus berterima kasih padamu,”

“Tidak apa, Min Ah. Bukankah sudah kukatakan tadi? Lagipula…” Jaejoong kembali menatap Min Ah dengan serius, “aku akan selalu ada di sisimu, kapanpun kau mau.”

Kali ini dada Min Ah benar-benar berdebar kencang. Wajahnya memanas. Min Ah mengangguk kecil lalu segera masuk ke dalam rumahnya.

December 24th. 22.18 PM

“Heechul.”

Namja yang dipanggil itu menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Begitu tahu, Heechul langsung memalingkan wajahnya, “Buat apa kau kemari?” katanya ketus. Heechul merasa kesal karena Jaejoong selalu tahu di mana dia berada jika dia sedang bad mood.

Jaejoong tidak merasa terkejut. Dia tahu pasti sahabatnya akan berkata seperti itu. Tanpa menjawab pertanyaan Heechul, Jaejoong mengambil tempat di sebelahnya.

Melihat itu, Heechul sontak berdiri dari bangkunya dan bergegas meninggalkan Jaejoong.

“Heechul-ah, tunggu!”Jaejoong dengan sigap menyusul Heechul.

“Mengapa kau mengikutiku?!” Heechul semakin mempercepat langkahnya.

“Aku ingin bicara denganmu!”

Shireo!”

“Tunggu! Kau ingin pergi ke mana?!”

“Ke tempat yang tidak ada kamu!”

“Heechul!” Jaejoong berhasil memegang lengan Heechul. Awalnya Heechul berusaha untuk melepaskan diri, tetapi tidak bisa karena cengkraman Jaejoong begitu kuat.

“Apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Heechul. Sorot matanya tajam dan terasa dingin.

Jaejoong terdiam sejenak. Memang sulit jika menghadapi seorang Kim Heechul yang sedang marah. Untung saja dia sudah bertahun-tahun selalu bersamanya. Jadi dia sudah terbiasa jika Heechul memperlakukannya seperti ini.

“Aku…sewaktu melihat kau dan Min Ah masih bersama, jujur aku merasa senang. Aku tidak merasakan apapun selain itu, jadi…mianhae, kalau ternyata akhirnya menjadi seperti ini.”

Heechul menggeram pelan. Dia tahu pasti Min Ah sudah menemui Jaejoong dan bercerita semuanya kepadanya. Harusnya dia sudah tenang, tetapi dalam hatinya masih saja berkecamuk.

“Kau tidak perlu meminta maaf seperti itu padaku, sama seperti Min Ah. Kalian tidak perlu meminta maaf. Aku tidak pantas untuk diberi maaf. Aku sudah bersalah besar terhadap kalian berdua, menghalangi perasaan kalian yang seharusnya saling bersatu.”

Jaejoong menggeleng pelan, “Tidak, Heechul. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”

“Tetapi aku memang merasa bersalah, Jae.”

Jaejoong terdiam. Heechul melanjutkan perkataannya,

“Sudahlah, tidak usah dilanjutkan. Sebaiknya sekarang kau segera menyatakan perasaanmu kepada Min A. Aku sudah menyerah.” Heechul memandang Jaejoong seraya tersenyum getir.

Jaejoong kembali terdiam. Lagi-lagi dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya selanjutnya.

December 24th. 23.12 PM

Aku meringkuk di atas sofa sendirian. Tayangan televisi sama sekali tidak kutonton. Bahkan melihatnya pun tidak. Cara apa lagi yang harus kupakai untuk menghabiskan waktu? Mengapa malam ini terasa sangat panjang sekali?

Aku melirik layar ponselku. Tidak ada pesan sama sekali. Sejak tadi, Jaejoong sama sekali tidak kembali dan menghubungiku. Apa bersama Min Ah benar-benar membuat Jaejoong sama sekali lupa denganku? Atau aku memang sama sekali tidak berarti jika disandingkan dengan Min Ah?

Mataku mulai membasah, aku buru-buru menghapusnya. Aku tidak mau menangis lagi. Tidak mau. Tetapi akibatnya, dadaku terasa nyeri.

Sepertinya malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak.

Ting Tong.

Aku terlonjak kaget. Debar jantungku tiba-tiba meningkat. Apa itu…Jaejoong yang menekan bel?

Aku segera berlari menuju ke pintu depan seperti orang kesetanan. Begitu membuka pintunya napasku tertahan. Jaejoong memang yang menekan bel. Melihatnya, aku justru tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tiba-tiba semuanya menjadi terasa canggung bagiku.

“Hwangrin-ah…” panggil Jaejoong pelan.

Entah mengapa aku jadi ingin menangis begitu mendengarnya memanggil namaku.

“Hwangrin-ah, walaupun mungkin sudah hampir telat. Tetapi kau masih ingin pergi melihat pohon Natal bersamaku?” tanya Jaejoong.

Aku terdiam. Harusnya aku senang. Seharusnya. Tetapi aku jusru merasakan perasaan yang tidak enak. Walau begitu, aku tetap mengangguk mengiyakan ajakannya.

Kami sampai di Sungai Han sekitar 15 menit kemudian. Pohon Natal memang masih menyala, tetapi orang-orang yang melihat sudah terbilang sedikit. Aku menatap salah satu pohon Natal dengan tatapan kosong.

Jaejoong mendekatiku, dia ikut melihat pohon Natal yang berada di hadapannya, “Pohon ini cantik, sama seperti pohon Natal yang kau hias di rumahmu.”

Aku tidak langsung menjawab. Aku masih saja menatap pohon Natal itu, “Gomawo,” jawabku singkat. Tanpa senyuman yang biasanya aku lemparkan ke arah Jaejoong sewaktu dia memujiku. Entah. Aku tidak sedang ingin tersenyum sekarang.

Mianhae karena aku sempat meninggalkanmu dan baru kembali sekarang. Tadi aku menemui Heechul dan sempat mendengarkan curhatannya yang sangat lama. Dia dan…Min Ah sempat bertengkar tadi.” Jelas Jaejoong langsung.

Aku mengedarkan pandanganku ke arah Jaejoong, “Lalu, mengapa Min Ah menelponmu?”

Tepat dugaanku. Jaejoong langsung terdiam. Aku memaksakan senyumku, “Tidak usah kau jawab. Aku sudah tahu semuanya, Jeje.”

Sorot mata Jaejoong menunjukan bahwa dia terkejut mendengar ucapanku. Yeah, sudah sepantasnya dia terkejut karena aku tidak pernah mengatakan hal ini sekalipun padanya.

“Aku tahu Min Ah sudah putus dengan Heechul karena dia menyukaimu. Aku juga tahu kau dulu sempat menolak Min Ah…”

Jaejoong semakin terkejut. Tetapi dia tidak sampai hati untuk bertanya lebih lanjut.

“Juga,” aku mengedarkan pandanganku ke arah Sungai Han, “aku tahu kau menyukai Min Ah.”

“Hwangrin-ah—“

“Jika itu benar,” aku tetap melanjutkan perkataanku, “mengapa kau masih ingin berpacaran denganku?”

Jaejoong terdiam sejenak sebelum ia bekata, “Selama ini aku selalu lebih mementingkan urusan orang lain dibanding urusanku sendiri. Aku pikir ketika aku menolak Min Ah, ketika aku sudah membohongi perasaanku sendiri, aku tidak akan menyakiti perasaan Heechul. Tetapi aku sama sekali tidak berpikir tentang perasaan Min Ah sendiri. Bagaimana rasanya menjadi dia setelah perasaannya ditolak, aku tidak memikirkan perasaan itu sama sekali.”

Aku tidak berusaha menyela perkataan Jaejoong. Aku masih terus menatap Sungai Han. Perasaanku semakin tidak enak. Tetapi aku berusaha menghiraukan perasaan itu.

“Ketika pertama kali bertemu denganmu, ketika kau menyatakan perasaanmu, aku berpikir, mungkin jika aku menerimamu dan menjalin hubungan denganmu, lambat laun aku pasti bisa menyukaimu dan melupakan Min Ah. Tetapi aku sadar, semakin aku bersikap seperti ini, hanya akan melukai perasaanku sendiri dan orang lain…”

Jaejoong menatapku. Dalam-dalam dan sangat lekat. Aku membalas tatapannya. Kulihat dia beberapa kali mencoba mengatakan sesuatu tetapi selalu ditahannya.

“Katakan dengan jelas.” aku bahkan tidak percaya aku bisa mengucapkan sebuah kalimat setelah beberapa kali tidak bisa mengucapkan apapun.

“Semua penjelasanmu ini, terlalu berbelit-belit. Aku hanya butuh satu penjelasan darimu. Perasaanmu yang sebenarnya. Dan kau belum mengatakannya dengan jelas,”

Jaejoong menatapku dengan penuh rasa bersalah,“Aku menyukai Min Ah. Maaf.”

Tubuhku menegang. Bibirku terkatup erat. Aliran darah di dalam tubuhku seakan berhenti, begitu juga dengan jantung ini. Seakan berhenti begitu mendengar satu kalimat yang tidak ingin kudengar, tetapi sudah terlanjut diucapkan olehnya. Kalimat pemukul mundur niatku yang berharap akan selalu bersama selamanya dengannya.

Kepalaku tertunduk. Shock. Aku tidak kuasa menatap matanya. Dan aku yakin, dia pun juga merasa demikian.

Tidak ada perkataan yang terucap setelah itu. Kami saling terdiam. Hanya terdengar desiran angin musim dingin yang menusuk tulang.

[FIRST PART FINISHED]

2 thoughts on “Winter Tears Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s