[flashfiction] Cosmetic

1cosmeticsall1

flashfiction (468 words)

ENJOY!

Cosmetic © seijurossi (@chantyolk)

 

Kepalsuan.

Aku tidak bisa begini terus. Aku ingin berhenti. Tetapi aku bukannya tidak mau, aku hanya tidak bisa untuk berhenti.

Aku hanya takut. Takut jika seandainya semua ini terungkap, dia tidak akan bisa melihat diriku seperti yang dulu lagi. Walaupun bibirnya selalu mengucapkan hal yang menenangkanku, aku tahu pasti itu bukanlah yang dirasakan olehnya. Aku tahu itu. Sudah menjadi sifat dasarnya untuk tidak membuat orang lain khawatir.

Tetapi bagaimana menyudahi semua kepalsuan ini? Bagaimana menunjukan apa yang ada di balik topeng yang kubuat selama ini?

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Kumohon seseorang tolong aku.

“Kamu tahu, seandainya saja kamu bisa lebih jujur padaku, mungkin kita tidak akan berakhir seperti ini.”

Saat itu, kupikir dia memanggilku karena ingin merayakan anniversary pertama kami.

“Aku tahu kamu itu sebenarnya cantik. Aku tahu itu, mesti tanpa pelindung, aku tahu kau akan tetap terlihat cantik. Tetapi mengapa terus-terusan membohongi dirimu sendiri—dan juga diriku? Itu yang tidak bisa kuterima.”

Bahkan waktu itu aku tidak sanggup untuk menatap wajahnya secara langsung.

“Dengar, aku benar-benar menyukaimu. Sangat menyukaimu. Tetapi kita tidak bisa seperti ini terus-menerus. Kamu yang sekarang hanyalah pribadi lain bagiku. Bahkan kamu tidak mencoba untuk mengatakannya secara langsung padaku. Kamu seperti menungguku untuk mengetahuinya sendiri.”

Aku sangat shock. Seolah seperti baru saja diberitahukan berita kematian. Aku tidak sadar apakah itu kenyataan atau tidak. Semua tutur katanya mengalir dengan cepat.

“Aku benci untuk mengatakan ini, aku berharap agar keadaan ini tidak pernah terjadi. Tetapi, apa boleh buat. Kamu yang membuatku menciptakan keadaan ini.”

Aku tahu penyesalan itu selalu datang terlambat. Aku tahu ini terdengar klise, tetapi aku benar-benar berharap waktu bisa berputar kembali.

Dia mendekatiku. Aku semakin tidak bisa menatapnya—aku terlalu takut. Tangannya mengangkat kepalaku supaya aku bisa bertatapan dengannya secara langsung. “Maafkan aku,”  ujarnya lirih.

Aku menggeleng pelan. Bukan kamu yang seharusnya minta maaf, tapi aku. Ingin aku berkata demikian. Tetapi bibirku terasa terkunci.

Dan ketika bibir kami akhirnya bersentuhan untuk yang pertama kalinya, aku tahu, itu akan menjadi yang terakhir bagi kami juga.

Aku merasakan sesuatu yang basah mengaliri pipiku. Lagi. Kejadian itu bahkan baru terjadi dua jam yang lalu, tetapi aku sudah menangisinya berkali-kali.

Aku mengambil tissue yang kesekian kalinya dan menghapur air mataku pelan. Terlihat sesuatu yang berwarna cokelat muda yang ikut tersapu di tissue-ku.

Kembali aku teringat perkataanya,

“…Aku tahu itu, mesti tanpa pelindung, aku tahu kau akan tetap terlihat cantik…”

Kosmetik. Ya. Alat itu yang selalu membuatku percaya diri selama ini. Aku beranggapan bahwa memakai kosmetik akan membuat wajahku menjadi lebih sempurna. Tanpa cacat. Tidak pernah terpikirkan olehku untuk lepas dari kosmetik, karena itu sudah menjadi bagian dalam hidupku.

Tetapi, sesaat setelah ciuman pertama sekaligus terakhir kami—setelah dia akhirnya pergi dari hadapanku, mungkin untuk selamanya, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.

Entah mengapa, “pelindung” yang kukenakan ini menjadi sangat berat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s