Misunderstanding or Jealousy? {1/2}

Cast : Jo Youngmin, OC | Genre : Romance, Humor

“Nomor satu, tidak boleh menyebut nama namja berambut oranye norak itu.”

ENJOY!

Misunderstanding or Jealousy? {1/2} © seijurossi (@chantyolk)

 

I know.. we can’t go on..

But.. It’s Brave!

…..

“Omona! Youngmin sangat tampan sewaktu tampil di M!Countdown tadi!”

“Setelah rambutnya di cat agak gelap aku jadi mulai menyukainya, padahal biasku di

Boyfriend bukan dia..”

“Youngmin semakin berkembang sejak dari awal debutnya. Aaah Youngminnie Saranghae~!”

….

PATS!

Raebin mematikan TV-nya dengan kesal. Dia melempar remote dengan asal lalu beranjak menuju kamarnya—sambil membanting pintu dengan keras.

Hweji—yang tadinya berada di sebelah Raebin sewaktu menonton TV bersama—hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia bangkit dari sofa untuk mengambil remote yang ‘dibuang’ oleh Raebin. Untung saja apartemen mereka memakai karpet, bukannya ubin. Jadinya tidak usah khawatir jika mau melempar barang, toh barangnya akan baik-baik saja.

Hweji tidak berinisiatif untuk menyusul Raebin di kamarnya—menanyakan ada apa—lalu memeluknya dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja—oh ayolah ini bukan drama~!

Lagipula Raebin memang perlu diberi waktu sendiri untuk melampiaskan rasa kesal yang ditahannya berhari-hari. Rasa kesal? Yah, walaupun Raebin memang tidak pernah cerita kepada Hweji, tetapi Hweji tahu kalau Raebin akhir-akhir ini sedang uring-uringan. Dan Hweji juga mengetahui siapa orang yang membuat Raebin menjadi seperti ini.

Siapa lagi kalau bukan namja yang barusan dibicarakan oleh sekelompok yeoja di TV?

Yep, Jo Youngmin—BiO-nya Raebin.

Setelah Raebin dan Hweji makan bersama member Boyfriend di hari debut mereka (baca FF PikaChu~), perlahan member Boyfriend mulai disibukan dengan aktifitas mereka—karena Boyfriend mendapat respon yang sangat baik dari masyarakat. Tawarakn pemotretan, CF, variety show mulai menghampiri member Boyfriend. Yang paling banyak tentu saja 3 maknae termuda, Jo Twins dan Minwoo. Hal ini membuat Youngmin sempat ‘disconnected’ dengan Raebin selama lebih dari 2 minggu saking sibuknya. Raebin—yang memang jiwanya masih sangat labil ini—menjadi sangat sensitive dengan hal yang berbau Youngmin.

Pernah Hweji tidak sengaja menyinggung nama Youngmin ketika mereka sedang makan di kantin sekolah, dan hasilnya Raebin tidak mau berbicara dengannya selama 3 hari (.__.)

Hweji mengerti perasaannya Raebin, karena dia sendiri juga sudah jarang berhubungan dengan Kwangmin lagi. Tetapi Hweji termasuk orang yang mengerti situasi dan kondisi—maklum karena Hweji tahu bahwa saat ini Kwangmin memang sangat sibuk. Jadi dia tidak masalah jika berhari-hari tidak bisa berhubungan dengannya. Toh mereka masih bisa bertemu di sekolah kan?

Raebin dan Hweji memang tercacat sebagai siswi di Seoul Performing Arts High School kelas 1—resmi menjadi ‘adik kelas’ nya Jo Twins dan Minwoo.

Ngomong-ngomong setelah membicarakan itu, Hweji sadar akan sesuatu. Kalau Raebin tidak bisa berhubungan dengan Youngmin, mengapa tidak menemuinya saja di sekolah?

TOK TOK TOK!

“Raebin-a, buka pintunya. Aku mau masuk.”

Pada akhirnya Hweji memutuskan untuk menyusul Raebin di kamarnya (.__.)

CKLEK

Pintu terbuka, Raebin memandang Hweji dengan mata sembab, sepertinya habis menangis. Tetapi tatapan mata Raebin berkilat, seakan merasa bahwa dirinya terganggu dengan kehadirannya Hweji

Hweji hanya bisa tersenyum masam. Biasanya jika tatapan mata Raebin seperti ini, dia akan menyebutka—

“Nomor satu, tidak boleh menyebut nama namja berambut oranye norak itu.” kata Raebin sambil tetap menatap Hweji tajam

‘Nah kan, dugaanku benar’ =w= batin Hweji dalam hati

Sepertinya akibat dari kesibukan para member Boyfriend ini benar-benar membuat otak Raebin menjadi kacau. Peraturan konyol yang dia buat sendiri itu bukan yang pertama kalinya dia ucapkan, tetapi sudah yang kesekian kalinya karena namja-berambut-oranye-norak yang berhasil membuat moodnya jelek

Hweji merasa geli setiap kali Raebin menyebut Youngmin dengan namja-berambut-oranye-norak. Karena Hweji tahu Raebin begitu menyukai rambut pirang Youngmin. Menurut Raebin, Youngmin dengan rambut pirang membuatnya makin terlihat berkarisma. Jadi dengan kata lain Kwangmin itu tidak berkarisma bagi Raebin =w=

Hweji menepuk-nepuk bahu Raebin, “Oke-oke. Aku sudah tahu, Raebin-a. Biarkan aku masuk.”

Raebin tidak bergeming dari tempatnya. “Nomor dua, tidak boleh membicarakan setiap member, termasuk saudara kembar namja-berambut-oranye-norak itu.”

Mulut Hweji menganga, kali ini Raebin benar-benar sedang emosi!

Astaga, Youngmin! Kau memakai cara apa sih sampai bisa membuat tingkah Raebin menjadi aneh seperti ini?! >//<

Boyfriend’s Dorm

21:09 PM

“Haah~ akhirnya sampai juga di dorm!” Jeongmin menaruh tasnya asal lalu segera merebahkan dirinya di atas sofa, “Aigoo~ nyaman sekali!” katanya

“Hyung, jangan tidur-tiduran dulu. Taruh tasmu di tempat yang benar.” Youngmin mengambil tas Jeongmin lalu ditaruh di sebelah Jeongmin

“Syukurlah performance pertama lagu ‘You and I’ berhasil. Kalian tadi mendengar dengan jelas fanchants dari para fans kan?” Donghyun membuka kulkas lalu meraih botol air mineral dan langsung meneguknya sampai habis

Hyunseong mengangguk senang, “Ne, hyung. Tadi aku sangat senang sekali.”

“Suara hyung tadi bagus sekali lho.” Kwangmin melirik ke arah Hyunseong—yang menyebabkan wajahnya menjadi merah

“Tapi Kwangmin-ah, tadi kau telat masuk di awal rap sedikit kan?” Minwoo yang sedang melahap makan malamnya tiba-tiba berbicara

Kwangmin mencibir, “Kenapa kau sangat suka sekali membicarakan kesalahanku sih?” Kwangmin duduk di sebelah Minwoo dan mulai mengambil makan malamnya juga

Minwoo terkekeh, “Habis itu menyenangkan.” Kwangmin langsung menjitak kepala Minwoo pelan

“Aku mandi duluan ya.” Youngmin beranjak menuju kamar mandi sambil meneteng handuk, tetapi Jeongmin langsung menyerobot. “Andwae! Bukankah menurut jadwal harusnya aku yang mandi paling awal?”

“Ya~! Habisnya hyung masih enak tidur-tiduran sih di sofa, jadi mending aku duluan saja.”

Jeongmin menggerak-gerakkan telunjuknya, “Ckckck. Tidak bisa. Sekarang aku mau mandi.” Jeongmin mengambil handuk miliknya di dekat kamar mandi lalu langsung menutup pintu kamar mandi

Donghyun menghampiri Youngmin, “Percuma saja berdebat bersama Jeongmin, Youngmin-ah. Lagipula tumben kamu ingin cepat-cepat mandi? Biasanya kamu makan malam dulu baru mandi.” Tanya Donghyun heran

Youngmin mendesah pelan, “Aku juga tidak tahu, hyung..”

Donghyun mengekrutkan kening, “Waeyo? Kau ada masalah dengan Raebin?”

Youngmin tidak menjawab, dia langsung menuju ke kamarnya.

Di dalam kamar, Youngmin bersandar di tempat tidurnya sambil mendengarkan lagu lewat iPod miliknya. Matanya terpejam. Sesekali matanya terbuka dan melirik ponsel di sebelahnya persis.

Tetapi ponsel itu tetap diam, tidak ada suara apapun yang menandakan bahwa ada pesan masuk

Dan begitu Youngmin mengetahui tentang hal itu, matanya kembali terpejam. Lalu terbuka lagi dan seterusnya

Donghyun membuka pintu kamar Youngmin, dia merasa ada yang tidak beres dengan Youngmin. Sikapnya sangat aneh tadi

Donghyun menghampiri Youngmin lalu duduk di tempat tidurnya, “Gwaenchanayo?”

Youngmin menggeleng pelan, matanya tetap terpejam. Dia menggenggam ponselnya dengar erat

Donghyun melihat ponsel Youngmin sekilas lalu menatap langit-langit kamar, “Kau tidak menelponnya?”

Mata Youngmin terbuka, tangannya makin menggenggam erat ponselnya. “Aku tidak bisa menelponnya, hyung.”

Donghyun menatap Youngmin heran, “Wae? Bukankah kamu ingin menelponnya? Sudah lama kalian tidak saling menghubungi kan?”

“Ne, aku ingin menelponnya. Tapi aku tidak bisa.” Youngmin melepas earphone yang melekat di telinganya lalu menaruh iPod miliknya di atas meja.

“Kenapa bisa tidak bisa?”

Youngmin menatap ke arah ponselnya untuk yang kesekian kalinya. “Dia menghindariku.”

Keadaan Raebin tidak kunjung membaik walaupun dia sudah menumpahkan semua kekesalannya kepada Hweji. Hweji yang bersedia menjadi ‘tong sampah’ Raebin selama semalam penuh pun hanya bisa geleng-geleng kepala sewaktu mendengar Raebin akan membolos sekolah keesokan harinya.

“Kau yakin akan membolos? Aku tidak mau memberi alasan yang macam-macam kepada seonsaengnim lho. Akan kujelaskan apa-adanya sesuai dengan keadaanmu.”

Raebin melotot ke arah Hweji. Tapi Hweji tidak memperdulikannya

“Ya! Cho Hweji, katakan saja aku sakit apa susahnya sih?”

“Aku nggak mau membohongi seonsaengnim.”

“Cih, kenapa sikapmu tiba-tiba menjadi sok baik begini?”

Gantian Hweji yang melotot. Lalu dia berbalik menuju pintu apartemen. “Terserah apa katamu. Yang jelas kamu nggak sakit dan aku nggak mau membohongi seonsaengnim. Titik.”

BLAM!

Hweji menutup pintu apartemen

Raebin mendesis pelan, lalu kembali menuju ke kamarnya. Dia sama sekali tidak ingin melakukan aktivitas apapun hari ini.

Hweji mendengarkan pelajaran tentang not balok dengan setengah-setengah. Pikirannya dipenuhi oleh rasa sebalnya terhadap Raebin. Hweji rasa Raebin terlalu egois mementingkan dirinya sendiri. Walaupun dia bersedia menjadi tong sampahnya selama semalam bukan berarti keesokan harinya Raebin bisa membolos—menyuruh Hweji berbohong—demi keinginannya sendiri kan?

Hweji melempar pensil mekaniknya dengan kesal. Kenapa di saat moodnya sedang buruk dia diberi tugas untuk menggambar not balok sih? Padahal menggambar adalah kelemahan Hweji

Do…Re…Mi..F—aish aku menyerah!!” Hweji mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak peduli bahwa seluruh teman sekelasnya memperhatikannya. Hweji bangkit dari tempat duduknya dan mengangkat tangannya

“Seonsaengnim, bolehkah aku ijin ke UKS? Hari ini aku sedikit pusing.”

Pada akhirnya justru Hweji yang jatuh sakit

Hweji berjalan agak terhuyung menuju UKS. Letaknya cukup jauh dari kelas not balok. Jadi dia harus menahan sekuat mungkin agar tidak jatuh. Tangan kirinya memegang dinding untuk menahan tubuhnya.

“Aiyaa~ apa UKS itu sebegitu jauhnya?! Kenapa dari tadi tidak sampai-sampai sih!” Hweji hanya bisa menggerutu.

“Hweji? Kau sedang apa?”

Hweji menoleh ke arah suara yang berada di belakangnya, ternyata Minwoo

Masih dengan posisi yang tidak berubah—tangan kiri memegang dinding—Hweji menjawab dengan malas, “Mau ke UKS. Aku sedikit pusing.”

“Keuraeyo? Kukira punggungmu encok.”

Hweji memutar matanya, “Sangat lucu, Minwoo-ssi.”

Mata Minwoo sedikit melebar, “Omo, kau benar-benar pusing!”

“Tentu saja pabo! Buat apa aku berbohong?” Hweji mendengus sebal

Minwoo menghampiri Hweji, lalu tangan kiri Hweji di lingkarkan di lehernya. Hweji sedikit tersentak

“Ya! Mau apa kamu?”

“Mengantarkanmu ke UKS. Kalau kau ke UKS dengan posisimu yang seperti itu, aku yakin sampai bel pulang pun tidak akan sampai.” Kata Minwoo cuek. Hweji sebenarnya ingin membalas perkataannya, tetapi ditahan karena dalam hati dia sedikit membenarkan perkataan Minwoo.

Sesampainya di UKS, Hweji merebahkan diri di atas tempat tidur. Dia memegangi kepalanya sambil sesekali memejamkan matanya

“Kau kenapa?” Tanya Minwoo lagi

“Sudah kubilang aku pusing.” Jawab Hweji

“Aniya, bukan itu. Maksudku kau kenapa bisa sampai pusing? Ada hal yang kau pikirkan?”

Hweji menoleh ke arah Minwoo, hening sesaat.

“Aku tahu, pasti Kwangmin kan?” Minwoo mencoba untuk menebak. Hweji mengerutkan kening

Kwangmin? Aku saja hampir lupa kalau Kwangmin itu ada (.__.)

Hweji menggeleng.

“Sebenarnya ini bukan masalahku sih, tetapi entah mengapa aku juga ikut memikirkan masalah itu.”

Minwoo mengangguk-angguk. Sepertinya dia mengerti siapa yang dimaksud oleh Hweji.

“Minwoo-ah, kau tahu? Tingkah Raebin sekarang jadi aneh.”

“Youngmin juga begitu.” Jawab Minwoo

Hweji melirik Minwoo heran. “Kenapa tingkah Youngmin bisa aneh?”

Minwoo balas bertanya, “ Menurutmu mengapa tingkah Raebin bisa aneh?”

Hweji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Err. Berdasarkan hasil pengorbananku menjadi tong sampahnya kemarin—walaupun dari awal aku memang sudah tahu—gara-gara kesibukannya Youngmin. Kudengar mereka sudah tidak pernah berhubungan lagi sejak 2 minggu lalu.”

Minwoo mengerutkan kening, “Jinjjayo? Gara-gara jadwal padat Boyfriend?”

Hweji mengangguk. Minwoo mendesah pelan, “Ahh~ sudah kuduga ini cuma salah paham.”

Hweji bangkit dari tempat tidur. “Eh? Salah paham?” Tanya Hweji tidak mengerti.

“Ne.. kemarin aku tidak sengaja menguping pembicaraannya Donghyun hyung dan Youngmin. Sebenarnya Youngmin selalu menunggu pesan maupun telepon dari Raebin di ponselnya. Bahkan Youngmin ingin menelepon dia. Tetapi dia bilang tidak bisa. Karena..”

Hweji memiringkan kepalanya sedikit, “Ka-re-na?”

“Raebin menghindari Youngmin.”

“Hah? Bukannya Youngmin justru yang terlalu sibuk? Mengapa jadi tambah rumit begini?”

“Sudah kubilang ini salah paham. Mungkin Youngmin menganggap Raebin menghindarinya karena dia merasa Youngmin terlalu sibuk dengan pekerjaan.”

“Yah mungkin.. Eh, bagaimana kalau kita membantu pasangan konyol itu agar salah pahamnya bisa terselesaikan?” tawar Hweji kepada Minwoo

“Tumben kamu mau ikut campur urusan orang.” Minwoo berkata dengan heran

Hweji turun dari tempat tidur, “Habisnya. Aku tidak tahan melihat sikap Raebin. Penyebab aku pusing hari ini kan gara-gara dia.”

“Oh.. kirain kamu bersimpati dengannya.”

“Sekali lagi, lawakan yang lucu. Minwoo oppa.”

Minwoo terkekeh, “Baik-baik aku tidak akan menggodamu lagi. Berhenti memanggilku oppa, rasanya sangat aneh jika diucapkan olehmu.”

Lagi-lagi Hweji mendengus sebal.

TBC

Advertisements

2 thoughts on “Misunderstanding or Jealousy? {1/2}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s